Itu adalah kalimat awal yang selalu gua gunakan saat dapat tugas mengarang sewaktu SD. Biasanya, sehabis liburan panjang kenaikan kelas, Bu Omah, Bu Cucum, Bu Ike dan Pak Oemar, yang pernah jadi wali kelas gua waktu SD, selalu memberikan tugas mengarang saat pelajaran Bahasa Indonesia.
Selalu saja gua awali dengan kalimat itu, lalu setelah itu selalu saja berhenti menulis umtuk merenung beberapa menit agar mendapat inspirasi. Kemudian hanya kalimat-kalimat standar tak menarik yang mengikuti kalimat awal tersebut, tapi gua selalu berucap "alhamdulillah" bila karangan gua bisa memembus lima paragraf, sesuai yang disyaratkan oleh Bapak / Ibu Guru.
Beberapa hari kemudian tugas mengarang dibagikan oleh Bapak / Ibu guru, dan angka 6 dalam sebuah bulatan yang dituliskan oleh pena merah milik Bapak / Ibu gurupun sudah akrab hadir di kertas yang gua gunakan untuk mengarang itu. Gua rasa nilai itu hanya merupakan pengganti ucapan terima kasih.
Wajar saja, kawan. Iky kecil bisa dibilang ga punya momen tak terlupakan dalam hal liburan. Sekalinya liburan keluar kota paling ikut bokap yang lagi dinas, itupun gua cuma diem aja di hotel nungguin bokap pulang kerja. Atau kalopun pernah liburan, itu dilakukan waktu almarhumah Mamah masih ada dan gua belum sekolah. Itu artinya gua lupa seperti apa detail liburannya, dan hanya diingatkan oleh beberapa foto koleksi hasil jepretan bokap gua yang dulu memang merangkap sebagai fotograper disamping profesi utamanya yang seorang PNS.
Tema "Liburan ke Rumah Nenek" Itu adalah pure sebuah karangan yang gua buat tanpa inspirasi sedikitpun. Kenyataannya, waktu kecil gua adalah lelaki rumahan yang jarang banget liburan. Apalagi liburannya ke rumah Nenek. Itu benar-benar kebohongan publik, karena setelah ditinggal Mamah saat umur 7 tahun sampai 10 tahun berikutnya, gua tinggal di rumah Nenek, dan menjelma jadi "anak Nenek".
Baru setelah kuliah dan dikasih sebuah skuter merk vespa tipe P150S keluaran tahun 1983, gua bisa mengarungi seluruh penjuru kota Bandung, dan kota-kota sekitarnya untuk memuaskan hasrat liburan yang waktu kecil kurang terlampiaskan. Vespa yang satu tahun lebih tua dari umur gua itu gua ganti warna cat nya jadi kuning sesuai warna favourite gua, lalu gua kasih nama "Bambrang Yellow". Hmm, kisah tentang gua dan si Bambrang ini mungkin butuh satu bab khusus untuk membahasnya. Kisah lucu, senang, sedih, konyol, semua pernah gua alami bareng si Bambrang. Ini kapan-kapan aja deh nyeritainnya, kalo ga hujan.
Mungkin momen gua ke Bali ini bisa dibilang sebagai salah satu bentuk "balas dendam" dari gua yang waktu kecil "ga pernah" merasakan liburan yang mengesankan. Maka dari itu, waktu selama tiga hari ini benar-benar gua manfaatkan untuk bisa singgah di banyak tempat wisata yang ada di Bali, walaupun itu tidak ada di paket tour yang gua pesan, dan konsekuensinya adalah tabungan gua saat sampai di Batam hanya tinggal bersisa 5 digit saja.
***
Sebetulnya bukan jawaban itu yang gua harapkan. Gua pengennya si Dinda bilang 'nggak usah lah, A. Nanti duit Aa abis'. Menyesal rasanya gua tanyakan hal itu ke si Dinda. Tadinya gua tanya hal itu biar keinginan gua untuk diving ada yang ngerem, dan terselamatkanlah rupiah gua yang bernilai setara jatah makan gua selama dua bulan.
"Eughh, pake mau segala kamu mah!" logat sunda gua keluar.
"Iya lah mau, diving gitu loh. Belum tentu ada kesempatan lagi." Jawab si Dinda yang matanya disisakan segaris saja karena tersenyum, dan tentu saja giginya dipamerkan.
Menyelam itu ternyata susah, kawan. Badan gua yang udah berat aja masih dikasih pemberat besi seberat enam kilo gram biar bisa kelelep. Awalnya sih gua pikir sama aja kaya berenang di kolam renang. Tapi ternyata jauh berbeda. Gua yang sewaktu STM dikasih tugas sama guru olah raga buat nyelametin temen-temen gua yang kelelep waktu ada tes praktek berenang, sama sekali ga berdaya dan hanya bisa pasrah ngikutin apa yang diinstruksikan sama guide diving yang memang khusus ngawasin gua (yang ngawasin si Dinda orangnya beda lagi, satu orang satu guide.
Gua cukup dibuat kaget saat masuk kedalam air. Telinga gua mendadak tuli akibat tekanan air laut. Tapi sebelum nyemplung ke laut, Belik Made yang jadi guide sudah memberi jurus penangkal jika hal itu terjadi, yaitu dengan cara menjepit lubang hidung, dan mengeluarkan nafas lewat hidung sekeras-kerasnya. Hembusan nafas yang mentok karena hidung tertutup itu akhirnya menekan gendang telinga dan gua pun terbebas dari ketulian sesaat itu.
Tragedi lainnya adalah sebagian air masuk lewat selah-selah kacamata selam yang membuat lubang hidung gua tertutup air laut. Ini pun sudah ada jurus penangkalnya yang juga dikasih tahu sama Belik Made, yaitu dengan cara menekan jidat hingga kepala menengadah, lalu kembali menghembuskan nafas sekeras-kerasnya lewat hidung, dengan begitu ada celah antara kaca mata selam dan tulang pipi dan air pun tersingkirkan oleh hembusan nafas.
Tapi yang paling menyiksa adalah tragedi air laut ketelen, dan itu rasanya asin banget. Jika saja pembuat air laut adalah manusia, maka hampir bisa dipastikan kalo orang itu punya hobi kawin. Inipun ada jurus penangkalnya yang juga diajarkan Belik Made, tinggal pencet tombol bagian depan regulator alat nafas yang sedang kita kenyot untuk memberi oksigen, lalu si regulator itupun menyedot sisa air yg ada di dalam mulut untuk kemudian disemburkan kembali ke lautan. Ehh, bener regulator kan nama alatnya? Gua lupa, tapi kayaknya sih bener.
Ga banyak yg bisa gua gambarkan tentang kondisi bawah laut Tanjung Benoa. Haya ada karang berwarna coklat, pasir putih keabuan, rumput laut bewarna hijau, berbagai jenis ikan yang mengepung gua karena gua kasih roti tawar sebagai umpan, dan tentunya ada air asin. Itu saja, ga ada yang wah. Ga ada terumbu karang berwarna warni yang melambai-lambai, ga terlihat makhluk laut yang aneh, dan ga ada putri duyung secantik Kajol Devgan yang sebenarnya sangat ingin gua lihat. Bahasa simple-nya spot menyelem di Tanjung Benoa ini tidak lebih bagus dari akuarium sea world yang ada di Ancol - Jakarta.
Tapi buat amatir seperti gua, tempat ini cukup recomended lah, karena konon katanya di tempat diving yang lain, yang pemandangan bawah lautnnya bagus, kita harus punya lisensi dulu kalo mau diving. Jadi untuk sekedar pengalaman, silahkan dicoba, tapi jangan berharap dapetin kepuasan, karena selain pemandangannya biasa aja, rupiah yang dikeluarkan yang setara dengan jatah makan gua selama dua bulan pun sangat tidak sebanding dengan waktu menyelam yang hanya +/- 15 menit saja, total se-jam lah kalo dihitung dari mulai deal-deal-an harga, terus ganti kostum, terus dengerin pengarahan, terus jalan ke perahu, terus naek perahu, terus nyelam, terus naek perahu lagi, terus jalan lagi, terus ganti kostum lagi, dan terakhir salaman tanda perpisahan sama Belik Made dan kawan-kawan.
Saat tiba waktunya naek banana boat, gua dan si Dinda kebagian naek benda itu bareng sama anak kecil yang sepertinya baru beberapa bulan saja lepas dari masa balita. Lalu tanpa mempertimbangkan masalah adrenaline, si orang tua anak kecil itu nge-request ke si operator untuk jangan kenceng-kenceng narik banana boat-nya, dan jangan dijatuhkan. Alhasil naek banana boat kali ini rasanya cuma beda tipis saja sama naek kereta ekonomi. Dalam hati gua bergumam sopan 'Bapak / Ibu yang dirahmati Alloh SWT, alangkah indahnya perjalanan kita menggunakan banana boat dilautan Tanjung Benoa ini. Ombak kita lewati tanpa benturan berarti hingga kita bisa kembali ke daratan dengan selamat dan tak kurang suatu apapun. Baju pelampung pun hanya basah ujungnya saja. Terima kasih untuk semua ini, sungguh menyenangkan bisa melakukan perjalanan bersama Bapak / Ibu sekalian. Semoga kita dipertemukan dikesempatan berikutnya'.
Diving ternyata diluar harapan, parasailing gagal total, dan banana boat pun dilalui tanpa ekspresi. Harapan gua tinggal satu, ke pulau penyu. Semoga yang ini menyenangkan.
Tapi, kawan, ternyata hari ini ga terlalu bersahabat. Bukan masalah pulau penyu, tapi masalah manusia ga tau diri yang nyabotase perahu yang seharusnya gua gunakan untuk ke pulau penyu. Gua yang sudah ngantri duluan untuk dapetin perahu ke pulau itu tiba-tiba saja disabotase oleh tiga orang manusia tak tahu diri (dua cowok satu cewek). Gua sempat ribut dan nyolot ke mereka sambil teriak, "ngerti kata ngantri ga woy!!!" sulut gua.
Mendengar teriakan itu mereka menoleh dan gua pun nyamperin mereka, tapi tangan gua ditarik si Dinda sambil bilang "Udah, A, biarin aja. Kita minta perahu lain ke Pak Wayan". Dan dasar ga tahu diri, diteriakin begitu tetap saja mereka berlalu menaiki perahu yang seharusnya jadi jatah gua dan si Dinda.
Pulau penyu yang sebenarnya adalah sebuah pulau kecil penangkaran penyu yang juga dijadikan seperti kebun binatang mini karena ga hanya penyu yang ada dipulau itu, jadi ga terlalu berkesan buat gua karena hal itu. Memang gua tetap tersenyum, karena rasanya hambar aja bila liburan tidak dibarengi senyuman. Apalagi saat tabungan habis dan hanya menghasilkan kerutan wajah maka hal itu tak beda dengan sudah jatuh tertimpa tangga besi, muka bonyok, tulang patah, masuk rumah sakit, koma, dan akhirnya innalillahi. Jadi sebuah senyuman saat itu gua kategorikan sebagai wajib ain.
Orang banyak bilang kalo Kuta itu ga bagus lagi, udah kotor, udah sumpek, enakan ke pantai ini, kalo mau belanja kesini, kalo mau itu kesitu, kalo mau ini kesini, dan bla bla bla. Lagian katanya kalo di kuta udah ga aman, udah jadi sasaran teroris, di bom aja udah dua kali.
Tapi, kawan, harus diakui bahwa daya tarik terbesar di pulau ini adalah Kuta. Terlepas dari segala kekurangannya, Bali memang sangat indentik banget sama Kuta. Kalo diibaratkan belum ke Batam bila belum ke jembatan Barelang, maka sama juga dengan Bali. Belum ke Bali kalo ga nyampe ke Kuta. Maka dari itu, kembali kocek dikantong harus disisihkan untuk tour tambahan sebuah tour tambahan di Kuta.
Gua ga punya waktu banyak untuk menghabiskan waktu di Kuta, dan tidak semua spot wisata di Kuta bisa gua datangi. Hanya tugu bom bali, pantai berpasir putih dengan haris pantai yang panjang banget (terpanjang diantara pantai yang pernah gua singgahi), dan pasar souvenir-nya saja yang bisa gua datangi.
Tanpa ada sunset karena sedang mendung, tanpa berbasah-basahan karena malas ngebilas badan sesudahnya, lagian gua sudah mau pulang kampung, dan sudah ditunggu mba-mba pramugari cantik di kabin pesawat. Tapi kalo masalah bule berbikini sih tetap seliweran didepan mata gua yang susah untuk berkedip karena berfikir bahwa pandangan pertama itu adalah anugerah dari Alloh SWT, dan setelah berkedip maka itu menjadi pandangan kedua, ketiga, dan seterusnya, jadi itu datangnya dari setan, hehehehe, just a dry joke, dude :D.
Sampai di Bandara Ngurah Rai, salam perpisahan hangat pun terjadi antara dua orang ramah yang setia mengantar gua dan si Dinda kesana kemari. Pak Wayan yang memang berwajah ramah sangat cocok dengan keramahan yang ia tampilkan, sedangakan Pak Ketut yang berwajah sangar ternyata tak kalah ramah dibanding Pak Wayan. Sungguh menyenangkan dilayani oleh keramahan orang-orang seperti mereka.
Dalam hati kembali gua berkata 'Lihat saja nanti, gua pasti kesini lagi!'
Kalau ada sumur di ladang
Bolehlah kita menumpang mandi
Kalau ada umurku panjang
Bolehlah kita mandi bareng ^__^
--selesaaaaaaaaiiiiiiiii--
Ga banyak yg bisa gua gambarkan tentang kondisi bawah laut Tanjung Benoa. Haya ada karang berwarna coklat, pasir putih keabuan, rumput laut bewarna hijau, berbagai jenis ikan yang mengepung gua karena gua kasih roti tawar sebagai umpan, dan tentunya ada air asin. Itu saja, ga ada yang wah. Ga ada terumbu karang berwarna warni yang melambai-lambai, ga terlihat makhluk laut yang aneh, dan ga ada putri duyung secantik Kajol Devgan yang sebenarnya sangat ingin gua lihat. Bahasa simple-nya spot menyelem di Tanjung Benoa ini tidak lebih bagus dari akuarium sea world yang ada di Ancol - Jakarta.
Tapi buat amatir seperti gua, tempat ini cukup recomended lah, karena konon katanya di tempat diving yang lain, yang pemandangan bawah lautnnya bagus, kita harus punya lisensi dulu kalo mau diving. Jadi untuk sekedar pengalaman, silahkan dicoba, tapi jangan berharap dapetin kepuasan, karena selain pemandangannya biasa aja, rupiah yang dikeluarkan yang setara dengan jatah makan gua selama dua bulan pun sangat tidak sebanding dengan waktu menyelam yang hanya +/- 15 menit saja, total se-jam lah kalo dihitung dari mulai deal-deal-an harga, terus ganti kostum, terus dengerin pengarahan, terus jalan ke perahu, terus naek perahu, terus nyelam, terus naek perahu lagi, terus jalan lagi, terus ganti kostum lagi, dan terakhir salaman tanda perpisahan sama Belik Made dan kawan-kawan.
***
Banana Boat - Parasailing - Pulau Penyu, sebenarnya itu acara paket tour gua di Tanjung Benoa ini, tapi sayang kondisi alam ga bersahabat, air laut lagi surut, dan dengan alasan safety, parasiling pun tetap menjadi angan-angan.Saat tiba waktunya naek banana boat, gua dan si Dinda kebagian naek benda itu bareng sama anak kecil yang sepertinya baru beberapa bulan saja lepas dari masa balita. Lalu tanpa mempertimbangkan masalah adrenaline, si orang tua anak kecil itu nge-request ke si operator untuk jangan kenceng-kenceng narik banana boat-nya, dan jangan dijatuhkan. Alhasil naek banana boat kali ini rasanya cuma beda tipis saja sama naek kereta ekonomi. Dalam hati gua bergumam sopan 'Bapak / Ibu yang dirahmati Alloh SWT, alangkah indahnya perjalanan kita menggunakan banana boat dilautan Tanjung Benoa ini. Ombak kita lewati tanpa benturan berarti hingga kita bisa kembali ke daratan dengan selamat dan tak kurang suatu apapun. Baju pelampung pun hanya basah ujungnya saja. Terima kasih untuk semua ini, sungguh menyenangkan bisa melakukan perjalanan bersama Bapak / Ibu sekalian. Semoga kita dipertemukan dikesempatan berikutnya'.
Diving ternyata diluar harapan, parasailing gagal total, dan banana boat pun dilalui tanpa ekspresi. Harapan gua tinggal satu, ke pulau penyu. Semoga yang ini menyenangkan.
Tapi, kawan, ternyata hari ini ga terlalu bersahabat. Bukan masalah pulau penyu, tapi masalah manusia ga tau diri yang nyabotase perahu yang seharusnya gua gunakan untuk ke pulau penyu. Gua yang sudah ngantri duluan untuk dapetin perahu ke pulau itu tiba-tiba saja disabotase oleh tiga orang manusia tak tahu diri (dua cowok satu cewek). Gua sempat ribut dan nyolot ke mereka sambil teriak, "ngerti kata ngantri ga woy!!!" sulut gua.
Mendengar teriakan itu mereka menoleh dan gua pun nyamperin mereka, tapi tangan gua ditarik si Dinda sambil bilang "Udah, A, biarin aja. Kita minta perahu lain ke Pak Wayan". Dan dasar ga tahu diri, diteriakin begitu tetap saja mereka berlalu menaiki perahu yang seharusnya jadi jatah gua dan si Dinda.
Pulau penyu yang sebenarnya adalah sebuah pulau kecil penangkaran penyu yang juga dijadikan seperti kebun binatang mini karena ga hanya penyu yang ada dipulau itu, jadi ga terlalu berkesan buat gua karena hal itu. Memang gua tetap tersenyum, karena rasanya hambar aja bila liburan tidak dibarengi senyuman. Apalagi saat tabungan habis dan hanya menghasilkan kerutan wajah maka hal itu tak beda dengan sudah jatuh tertimpa tangga besi, muka bonyok, tulang patah, masuk rumah sakit, koma, dan akhirnya innalillahi. Jadi sebuah senyuman saat itu gua kategorikan sebagai wajib ain.
***
Ini adalah hari terakhir gua dan si Dinda di Bali. Sambil menunggu waktu take off pesawat menuju ibu kota, gua minta ke Pak Wayan untuk diturunkan di area kuta untuk sekedar jalan-jalan, cari souvenir, lihat sunset, dan tentunya untuk sebuah target sampingan yaitu kembali melihat bule berbikini.Orang banyak bilang kalo Kuta itu ga bagus lagi, udah kotor, udah sumpek, enakan ke pantai ini, kalo mau belanja kesini, kalo mau itu kesitu, kalo mau ini kesini, dan bla bla bla. Lagian katanya kalo di kuta udah ga aman, udah jadi sasaran teroris, di bom aja udah dua kali.
Tapi, kawan, harus diakui bahwa daya tarik terbesar di pulau ini adalah Kuta. Terlepas dari segala kekurangannya, Bali memang sangat indentik banget sama Kuta. Kalo diibaratkan belum ke Batam bila belum ke jembatan Barelang, maka sama juga dengan Bali. Belum ke Bali kalo ga nyampe ke Kuta. Maka dari itu, kembali kocek dikantong harus disisihkan untuk tour tambahan sebuah tour tambahan di Kuta.
Gua ga punya waktu banyak untuk menghabiskan waktu di Kuta, dan tidak semua spot wisata di Kuta bisa gua datangi. Hanya tugu bom bali, pantai berpasir putih dengan haris pantai yang panjang banget (terpanjang diantara pantai yang pernah gua singgahi), dan pasar souvenir-nya saja yang bisa gua datangi.
Tanpa ada sunset karena sedang mendung, tanpa berbasah-basahan karena malas ngebilas badan sesudahnya, lagian gua sudah mau pulang kampung, dan sudah ditunggu mba-mba pramugari cantik di kabin pesawat. Tapi kalo masalah bule berbikini sih tetap seliweran didepan mata gua yang susah untuk berkedip karena berfikir bahwa pandangan pertama itu adalah anugerah dari Alloh SWT, dan setelah berkedip maka itu menjadi pandangan kedua, ketiga, dan seterusnya, jadi itu datangnya dari setan, hehehehe, just a dry joke, dude :D.
Sampai di Bandara Ngurah Rai, salam perpisahan hangat pun terjadi antara dua orang ramah yang setia mengantar gua dan si Dinda kesana kemari. Pak Wayan yang memang berwajah ramah sangat cocok dengan keramahan yang ia tampilkan, sedangakan Pak Ketut yang berwajah sangar ternyata tak kalah ramah dibanding Pak Wayan. Sungguh menyenangkan dilayani oleh keramahan orang-orang seperti mereka.
Dalam hati kembali gua berkata 'Lihat saja nanti, gua pasti kesini lagi!'
Kalau ada sumur di ladang
Bolehlah kita menumpang mandi
Kalau ada umurku panjang
Bolehlah kita mandi bareng ^__^
--selesaaaaaaaaiiiiiiiii--
mampir dong gan kalo main main ke Bali :D
ReplyDeleteharga hotel dan paket tour murah bali