Monday, June 7, 2010

Lebih Baik Sakit Hati Daripada Sakit Gigi

Nyut nyut nyut……..

Nyut nyut nyut……..

Sakit hati yang tampaknya gag lama lagi bakalan gua rasakan, sekarang diperparah oleh kondisi gigi gua yang kumat dan menimbulkan rasa nyeri secara sadis dan tak tahu waktu.

Nyut nyut nyut……..

Nyut nyut nyut……..

Ahh, sekarang pun rasa sakit bernada “nyut nyut” ini masih mengganggu konsentrasi gua. Jadi maap kalo blog gua kali ini lebih berantakan dibanding tulisan berantakan gua yang lainnya.

Setaun yang lalu adalah kali terakhir gua periksa ke dokter gigi. Gua memutuskan untuk jadi orang Indonesia dalam hal menangani penyakit, maksudnya kalo dateng ke dokter itu ya buat berobat. Kalo udah kerasa sakit banget dan ga sembuh-sembuh, baru inget dokter. Kalo pas lagi sakit tapi pake obat warung aja udah sembuh, nama dokter palingan cuma melintas sekilas dan tak berbekas. Apalagi Kalo lagi sehat,nama dokter cuma ada di list nomer 666. Ga ada cerita dateng ke dokter kalo cuma sekedar buat perawatan. Ngabisin waktu dan rupiah aja katanya. Mendingan duitnya dikumpulin buat nembak surat kawin di KUA.

Waktu itu rasa sakit yang gua rasakan kurang lebih sama dengan yang gua rasakan sekarang. Rasa sakit yang ditimbulkan oleh gigi graham paling ujung disebelah kanan yang kalo di intip di cermin sambil gua mangap selebar-lebarnya bakalan terlihat bagian gusi sebelah luar yang ngaplek (bahasa Indonesianya ngaplek apaan ya?), dan bila dilakukan proses penyedotan di bagian gigi yang sakit, lalu hasil sedotannya gua semburkan bersama air ludah, maka warna ludah gua akan menjadi merah bergradasi putih, kalo air ludahnya diaduk kayanya bakal membentuk warna pink yang cukup eksotis.

Asal muasal rasa nyeri di gigi itu timbul, adalah karena sisa-sisa makanan yang nyelip diantara gigi yang gua colok-colok dengan memakai tusuk gigi runcing. Sialnya sisa makanan itu tampaknya cukup nyaman berada diantara gigi gua, seperti seorang bayi yang tertidur pulas dan tak mau lepas dipangkuan ibunya sambil mulutnya terus beraksi menyedot (maap) payudara si ibu. Dengan begitu gua perlu melakukan proses colok-mencolok dengan kekuatan ekstra agar dapat mengeluarkan sisa makanan itu untuk kemudian gua telan kembali. Tapi ternyata proses colok-mencolok yang gua lakukan berimbas pada tercoloknya gusi dan akhirnya menyebabkan rasa sakit yang lumayan ekstrim dan membuat pipi gua bertambah chuby beberapa milli.

**********

Ibu dokter setengah tua atau dalam bahasa kerennya MILF itu bernama dokter Maya. Seorang dokter yang tampaknya cukup cantik pada masa-masa jayanya, dan dari sorot matanya yang memancarkan persahabatan menandakan bu dokter begitu penuh perhatian terhadap pasiennya. “Sakit apa Mas?” dokter Maya memulai pembicaraan dengan suara yang lembut dan sangat cocok untuk digunakan pada saluran telefon Party Line yang biasa di dihubungi oleh lelaki hidung belang untuk memuaskan hasratnya yang tidak normal.

Gua pasang pose jaim dalam menjawab, karena malu sama perawakan gua yang gagah kalo harus meringis kesakitan saat harus menyampaikan kata-kata. “Ini dok, gigi graham paling ujung sebelah kanan sakit, dan di gusinya keluar darah. Awalnya dulu ketusuk sama tusuk gigi dok.” Jawab gua menjelaskan hal yang gua derita.

“Ohh gitu, coba saya periksa.” Tanpa disuruh, gua langsung berdiri dan berganti tempat duduk ke subuah kursi canggih berjok hitam dan batangnya dicat putih yang terletak di samping kanan meja bu dokter. Sementara itu bu dokter sedang bersiap menggunakan sarung tangan karet, kayanya sih sarung tangan itu berfungsi menjaga kesterilan tangannya.

Lalu seorang suster mungil yang sejak tadi ada di balik pintu dengan sigap mendekati gua, dan etah apa yang dia lakukan, gua hanya melihat si suster pasang senyum tipis tanpa terlihat gigi, lalu tiba-tiba posisi kursi menjadi terlentang dan sorot lampu langsung menyinari muka gua tanpa permisi. Rasanya ga mungkin kalo hanya dengan sebuah senyuman kursi canggih itu langsung berubah posisi, dan lampu itu langsung bersinar. Secara gua bukan Kabayan yang gagap teknologi, jadi gua yakin bahwa ada tombol yang dia pencet sehingga berefek seperti itu.

Dokter Maya memposisikan dirinya di samping kiri gua, saat itu setengah gurat-gurat sisa kecantikan dokter maya mendadak hilang, karena bu dokter menutupi sebagian wajahnya dengan sebuah masker. Bila alasan memakai masker itu adalah karena bau nafas gua, rasanya ga ada yang perlu dikhawatirkan dengan itu, karena gua rajin menggosok gigi. Bila alesan bu dokter pake masker karena takut kena cipok pasien juga ga ada yang perlu dikhawatirkan, karena gua masih normal untuk tidak tergoda oleh wanita yang berumur jauh diatas gua walaupun dia cantik (kecuali Kajol, Tamara Blezinski, dan Catherine Zetta Zones). Jadi yang paling masuk akal adalah, bu dokter pake masker karena alasan safety, keamanan dari hal-hal yang tidak diinginkan,seperti : bu dokter ngiler dan ilernya jatuh ke gua karena terpana oleh kegagahan gua.

“Mulutnya dibuka yang lebar ya Mas.” Suara dokter Maya ga selembut ucapan pembukanya, mungkin karena terhalang masker. Tanpa jawaban, gua langsung buka mulut semaksimal kapasitas rahang yang nempel di wajah gua.

“Wah, ini kerjaan besar nih Mas.” Lanjut dokter Maya dengan ekspresi kaget yang hanya terlihat setengah, karena setengah ekspresinya tertutup masker.

“Giginya bagus, ga ada bolong. Gusinya juga sehat, cuma ada infeksi kecil aja. Tapi gigi graham bawah yang paling ujung kiri dan kanan impaksi” dokter maya terus menjelaskan

“Jadi gimana dok?” Gua jadi penasaran apa itu impaksi.

“Jadi sumber sakit gigi Mas itu adalah dari gigi graham yang saling bertumbukan, karena lebar rahangnya udah ga mencukupi lagi untuk timbul gigi baru, jadinya gigi graham yang terakhir tumbuhnya tidak sempurna. Bahanya simple-nya sih rahang Mas ini terlalu imut” Penjelasan berlanjut.

begini kira-kira posisi gigi graham gua


“Terus diapain dong dok?”

“Harus dicabut, tapi cara nyabutnya harus di operasi”

“Dioperasi? Biayanya Berapa dok? Sama dokter bisa?” Pikiran gua langsung menuju ke rupiah yang harus gua keluarkan untuk proses operasi gigi yang mungkin suatu saat gua jalani.

“Harus sama spesialis Mas. Nanti paling saya jadi asistennya. Berapa Ning tarif operasinya?” Dokter Maya bertanya pada suster mungil yang kalo dari panggilannya sih kayanya nama suster itu Ningsih, Kemuning, atau apalah yang awalan atau akhirannya “Ning”.

“Klo Mas operasinya disini Kira-kira cabut satu gigi 750rb, diluar obat-obatan dan biaya service. Jadi kalo untuk persiapan kira-kira butuh 2 juta lah Mas, karena kan yang harus dicabut ada dua gigi.” Suster itu enteng aja bilang angka 2 Juta.

Ya Alloh, duit lagi duit lagi. Secara kantor gua tuh adalah tipe kantor yang melepas karyawannya seperti anak ayam. Jangankan masalah operasi gigi yang ga ada sangkut pautnya dengan kerjaan, saat si karyawan ketimpa beton pas dikepala waktu dia kerja aja, gua ga yakin pengobatannya bakal diganti perusahaan. Jadi otomatis untuk urusan kaya gini, gua harus nguras kocek pribadi gua. Kalo tau gini, duit menang arisan kemaren ga bakal gua pake buat DP beli Bumblebee.

“2 juta yah. Lumayan juga ya dok. Terus klo buat sekarang dan tanpa operasi bagusnya gigi saya diapain dok?”

“Kalo sekarang bagusnya karang giginya dibersihin, biar ga neken ke gusi. Dan nanti jadinya antara gigi yang sekarang bertumbukan bakalan ada ruang kosong. Tapi itu untuk sementara aja, yang maksimalnya ya tetep harus di operasi.” Suara dokter Maya kembali lembut seiring dengan maskernya yang dia tarik ke bawah.

“Kalo bersihin karang gigi berapa dok?” tetep masalah rupiah yang pertama kali gua tanya. Seperti halnya kalo gua makan di restoran, cara gua baca menu adalah dari kanan ke kiri biar sebelum gua liat menunya, gua lebih dulu tau harganya.

“75 ribu per rahang Mas. Itu juga belum termasuk obat-obatan dan biaya service.” Yang jawab malah si suster mungil. Mungkin dia lebih tau masalah tarif di klinik ini.

“Lah, rahang saya kan cuma satu sus.”

“Maksudnya per baris gigi loh Mas.” Sambil tersenyum suster mungil itu menjelaskan.

“Ya deh, bersihin aja lah dok. Yang penting untuk sementara bisa ditanggulangi sakitnya.” Pasrah.

Lalu dokter Maya pun pasang kuda-kuda, masker kembali dinaikan, dan suster mungil membantu dengan cekatan dalam mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan. Dalam sekejap tercipta sebuah situasi kerjasama antara gua, dokter Maya, dan suster mungil, yang saling bahu membahu dalam proses pembersihan karang gigi.

Gua memberi kontribusi yang paling menyedihkan, mulut gua dipaksa untuk mangap secara maksimal dalam waktu yang lama, dan gua harus menahan ngilu yang tidak bisa diungkapkan kata-kata. Dokter Maya tampak asik memainkan sebuah alat yang tidak berhenti bergetar dan mengeluarkan air dengan cara menggeser, menekan, dan kadang menusuk-nusuk gigi gua. Sesekali dokter Maya berganti alat manual untuk menjangkau bagian-bagian gigi yang tersembunyi sambil wajahnya yang bila tak bermasker masih terlihat guratan cantik itu hanya berjarak beberapa senti saja dengan muka gua. Sementara si suster mungil sedang memegang selang yang dia sodokan ke dalam mulut gua agar dapat menyedot air yang keluar dari alat yang dipegang dokter Maya.

Sekitar 1-2 jam proses itu berlangsung, dan disela-sela itu, gua diberi kesempatan untuk menormalkan kembali posisi rahang gua sebanyak lima kali. Di setiap prosesi rehat, dokter Maya selalu ngajakin gua ngobrol dengan caranya yang friendly dan cukup humoris, walaupun gua hanya mengeluarkan tawa penghargaan saja. Bukannya ga mau ketawa lepas, tapi gigi gua ngilunya minta ampun, rahang gua bisa balik ke posisi normal juga udah syukur alhamdulliah.

Proses penyiksaan menurut gua, tapi gua terkesan dengan hasilnya. Woooowwww, gigi gua begitu kinclong. Saat dokter Maya ngasih gua cermin, yang gua liat adalah barisan gigi putih bersih rapih kinclong yang gua sendiri pun ga yakin kalo itu adalah gigi gua. Sangking senengnya, sampai2 gua lupa sama rasa sakit yang sebetulnya masih terasa, walaupun sudah sedikit berkurang, dan gua pun lupa akan proses pembersihan karang gigi yang begitu melelahkan itu.

Proses pengobatan berakhir dengan ditulisnya sebuah resep dan surat pengantar rontgen gigi ke rumah sakit dari dokter Maya yang tulisan tangannya sangat bertolak belakang dengan wajahnya. Gua heran untuk yang satu ini. Kayanya kalo jadi dokter itu tulisannya harus ceker ayam, dan kalo jadi petugas apotek matanya harus jeli untuk digunakan membaca tulisan ceker ayam.

**********

Masalah gigi gua cukupkan sekian, sekarang mari kita bicara masalah hati. Seperti yang gua tulis di awal tadi, kayanya ga lama lagi gua bakal ngalamin yang namanya “sakit hati”. Indikasi-indikasi ke arah situ udah terlihat cukup jelas,dan kayanya tinggal nunggu waktu aja. Kata sakit hati gua kasih tanda kutip karena gua sendiri ga yakin kalo gua bakalan ngerasain sakit hati saat hal itu terjadi, karena gua udah terlalu yakin bahwa hal negatif akan segera menimpa gua, dan gua udah siap dengan semuanya.

Jadi begini ceritanya kawan. Ini terjadi seminggu yang lalu. Malam itu gua lagi pasang posisi tidur-tiduran bertelanjang dada sambil nonton dvd di laptop gua. Gua ga konsen, entah cerita apa yang diputar dvd itu. Mata gua emang fokus ke gambar yang bergerak dan menampakan adegan tembak-tembakan pemeran utama yang lagi dikejar penjahat. Tapi pikiran gua melayang entah kemana, mungkin ke selatan, karena disitu ada si Kau Tahu Siapa yang sudah lama tak memberi kabar.

“Sabar itu tak berbatas kawan.” TIba-tiba saja terdengar bisikan sesosok Malaikat berbaju putih disebelah kanan gua yang wajahnya menyerupai wajah gua dalam versi yang jauh lebih lembut dan enak dilihat.

Ya, gua setuju itu. Tapi si iblis berbaju hitam di sebelah kiri gua ternyata ikutan menampakan diri, dan dengan tanpa ijin si iblis tersebut telah menggunakan wajah gua yang dimodifikasi sehingga terlihat lebih sangar dari Bang Napi, juga tak ketinggalan mengenakan aksesoris berupa dua buah tanduk merah yang terletak diatas kepalanya. “Sabar itu memang tak berbatas kawan, tapi tahukan kamu bahwa jarak pemisah antara sabar dan bodoh itu hanya setebal rambut di belah tujuh?” Begitu bisik si iblis.

Bener juga ya si iblis itu. Guman gua dalam hati. Pikiran gua terpengaruh bisikan iblis yang menyesatkan. Lalu sejurus kemudian sang Malaikat kembali berbisik. “Kawan, ingatkah apa yang telah kamu perjuangkan? Ini bukan waktu yang tepat untuk mencari kepastian kawan. Perjuanganmu akan menjadi sia-sia saja.”

“Ingatlah bahwa kau dan si Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut sekarang sedang berada dalam sebuah labirin. Labirin itu berujung, kawan. Dan kalian sama-sama ingin mencapai ujungnya. Bersabarlah kawan. Hanya dengan sabar kalian bisa sampai keujungnya.” Lanjut sang Malaikat.

“Semua perlu proses kawan. Dan kau belum melewati semua prosesnya. Ingat kawan, sabar itu tak berbatas. Bersabarlah kawan.” Sang Malaikat kembali berucap dengan penuh ketelatenan.

Lalu gua terhenyak, kening gua mengerut tanda pikiran gua sedang berputar. Kembali gua teringat akan apa yang sudah gua perjuangkan, dan sesaat itu gua putuskan untuk kembali bersabar.

Sedetik kemudian terdengar lagi sebuah bisikan. “Hei kawan. Kau pikir waktu lebih dari 3 bulan belum cukup untuk membuatmu disebut sebagai orang bodoh?” Iblis sialan itu membuat gua ragu akan keputusan gua.

“Langkahmu masih panjang kawan. Bila kau tetap seperti ini, kau tak lebih dari setangkai bunga yang menunggu disiram oleh pemiliknya, dan bila tak disiram akan segera layu lalu mati? Mau kau seperti itu? Mau kau hanya menunggu dan akhirnya mati dalam penantianmu?” Bisikan iblis itu lebih masuk ke akal gua yang lagi bimbang.

“Kawan……..” Sang Malaikat kembali mencoba mengembalikan gua ke jalan yang benar, tapi dengan sebuah jentikan jari, gua hentikan bisikan sang Malaikat. Akibat dari perbuatan gua itu, senyum sumringah penuh kemenangan pun terpancar jelas dari wajah si iblis yang berhasil meyusup ke pikiran gua bagaikan virus trojan dalam komputer. Dan senyuman itu diperbuas dengan suara tawa keras bernada meledek yang diarahkan pada sang Malaikat.

Lalu gua mulai prosesi peralihan pikiran dari alam nyata ke alam mimpi. Disela-sela proses peralihan kesadaran, sayup-sayup gua dengar sebuah kalimat. “Hey iblis, kalaupun aku kalah dalam mempengaruhi pikiran si iky, aku takan kalah saat bertarung denganmu!!!!!” Dan gua pun tertidur.

Keesokan harinya, bisikan si iblis masih melekat di pikiran gua. Saat kesadaran gua masih belum terkumpul, gua layangkan sebuah SMS panjang (maap tidak bisa diekspose isi sms-nya) yang inti dari isinya adalah meminta kepastian ke si Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut terkait status gua yang selalu di awang-awang.

Jiahhhhh lewat SMS, ga gentle banget. Bukan begitu kawan, sebelumnya gua udah nyoba nelfon, tapi ga diangkat, sedangkan kalo harus langsung ngomong tatap muka gua ga sanggup. Bukan ga berani, tapi berat di ongkosnya. Jadi cara terefektif dan terefisien ya lewat SMS, walaupun amat sangat begitu tidak gentle sekali.

Ini kita-kita aja ya, jangan bilang siapa-siapa. Tau ga kawan? Sejak terakhir kali gua ketemu sama Kau Tahu Siapa waktu gua mudik, sampai sekarang gua belom dapet kepastian juga, padahal dulu gua bener-bener ngalamin perasaan GR tingkat tinggi dan langsung berasa jadi someone-nya Kau Tahu Siapa. Jangankan sebuah kepastian kawan, untuk sekedar bicara masalah serius pun gua belom dapet kesempatan.

Sungguh tragis nasib gua kawan. Tapi inilah hidup yang harus gua jalani. Kata menyesal hanya muncul sesekali saja di kamus gua. Dan untuk hal ini gua tegaskan bahwa tidak akan pernah ada kata menyesal. Dengan penuh kesadaran gua menjalaninya, dan dengan penuh kesadaran juga gua siap dengan semua konsekuensinya. Makanya tadi di awal gua singgung bahwa gua ga terlalu yakin bakalan sakit hati saat jawaban negatif yang gua terima, atau tetap tak terjawab dan gua sendiri yang menyimpulkan bahwa jawabannya negatif.

Satu kesimpulan dari tulisan gua kali ini adalah terbongkarnya kebohongan dari Almarhum Meggie Z. yang lewat lagunya mengatakan “Daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini, biar tak mengapa…..” Sungguh berkebalikan dengan apa yang gua rasakan. Gua lebih rela sakit hati daripada sakit gigi. Ini bukan sombong-sombongan, ini real yang gua rasakan, karena kebetulan gua merasakan kedua sakit itu hampir secara bersamaan, walaupun si “sakit hati” belum terjadi, tapi roman-roman menuju situ udah jelas di mata gua. Tapi sekali lagi, sakit gigi ini lebih berasa, sakit gigi ini bikin gua lebih menderita dengan efek sampingnya yang berupa panas dingin, ga enak makan, ga enak tidur, dan gua ga bisa beraktifitas normal.

Akhirnya hanya rangkaian kata-kata do'a yang bisa gua lakukan untuk meminimalisir ketragisan gua. "Ya Alloh, sembuhkanlah hambamu dari kedua rasa sakit ini. Jikapun harus memilih, sembuhkanlah sakit gigi yang hamba rasakan ini Ya Alloh. Amin"

No comments:

Post a Comment