Sunday, August 29, 2010

H -7

Semakin dekat waktu mudik, semakin ga karuan hidup gua. Semakin tidak normal, dan semakin kurang serat, sehingga harus dibantu ve**ta herbal untuk bisa melancarkan pencernaan.

Semakin dekat waktu mudik, semakin ga semangat buat kerja. Padahal kalo gua mudik, ponakan dan adik-adik gua pasti pada nodong minta dibagi THR.

Awal Ramadhan hidup gua masih bisa dibilang normal. Semuanya masih cukup terstruktur. Mungkin ga jauh beda dengan hidup kalian.

Tapi, belakangan ini, kira-kira mulai dari seminggu yang lalu, yang namanya hidup terstruktur semakin jauh meninggalkan gua. Ini semua semata-mata karena pikiran dan jiwa gua yang udah di Bandung, sedangkan raga masih tertahan di Batam.

Monday, August 16, 2010

Piknik -part 3-

Handuk, alat mandi, dan baju ganti gua tenteng untuk dibawa ke kamar bilas. Tak disangka tak dinyana, antrian orang yang mau mandi udah kaya kaum dhuafa yang ngantri jatah daging qurban di Mesjid Istiqlal. Gua hitung jumlah ruang bilas cuma ada tiga biji, jumlah ruang ganti baju juga ada tiga biji, dan kalo diperkirakan jumlah orang yang nyebur ke laut ada ribuan. Dengan data seperti itu, kapankan gua bisa dapet giliran ngebilas badan yang udah bau gurita?

Hmmm, ini namanya uji fisik dan kesabaran. Oke, selama kaki gua masih sanggup menahan beban tubuh yang sudah berbobot kepala delapan ini, gua gak bakalan gentar buar ngeladenin antrian tak berkeprimanusiaan ini. InsyaAlloh.

Dalam hitungan menit saja ternyata kesabaran dan fisik gua sudah sampai ke batas akhir. Gua cuma mikir, antrian kaya gini cuma bikin orang jadi tambah bego. Akhirnya, untuk mensiasati tidak bertambahnya kebegoan gua dengan cara yang tidak elegan seperti ini, gua coba nanya ke wanita setengah baya yang jagain kamar bilas itu "Selain disini ada tempat lain gak buat mandi, Bu?"

Piknik -part 2-

Camp Vietnam udah diputerin. Rasa lapar bikin gua aga tergesa-gesa untuk menyudahi acara di tempat ini. "Udah yuk, kita ke pantai, biar bisa buka bungkusan".

Semua orang merespon setuju dengan apa yang gua inginkan, yang paling setuju tentu si bungsu anak teh Yuyun yang emang daritadi udah pengen nyemplung ke laut. Dengan begitu, mobil pun melaju mantap ke arah utara untuk segara menuju Mirota Pantai, sebuah tempat dimana beberapa bungkusan nasi dari styrofoam akan segera dihidangkan dan dilahap bersama-sama sebelum akhirnya bisa nyemplung ke air asin.

Jalan tanah bebatuan dan menurun terjal harus dilewati sebelum akhirnya sampai ke tujuan. Jauh sebelum gerbang masuk pantai, di kiri dan kanan jalan, Ratusan mobil dan puluhan bus tampak sudah nyaman terparkir. Firasat gua bilang, kemungkinan di dalam udah ga ada tempat parkir. Tapi apadaya, ruas jalan yang tersisa ga cukup buat dipake putar arah, jadi ya nekad aja gua tetap masuk ke area pantai sambil berharap disana ada tempat kosong buat dipake parkir. Atau sial-sialnya ya muternya di area pantai lah biar aga luas dikit area buat muternya.

Thursday, August 12, 2010

Piknik -part 1-

Obrolan santai selepas kerja antara gua dan dua orang penghuni rumah lainnya terjadi diatas balkon saat senja tiba dan langit mulai menguning pertanda matahari sudah merasa cukup untuk memberikan sinarnya dilangit Batam. Dari mulai ngebahas politik, kasus korupsi, calon Kapolri, sampai kelakuan kumpulan tukang rujak petis yang hobi buang sampah ke parit belakang rumah.

"Minggu depan ke pantai yo! Piknik piknik, mok. Sebelum puasa, seneng-seneng dulu lah." Sebuah topik baru coba gua lemparkan ketengah-tengah forum santai itu.

"Ayo. Gua tau pantai bagus, ky. sebelum camp Vietnam. Pasirnya putih. Paling jaraknya sekitar 1-2 KM dari Camp Vietnam. Kemaren gua kesono bareng si bule." Topik baru gua ternyata cukup dapat sambutan dari si Rolly.

"Motornya kuat ga, A Ujang? Lumayan jauh loh, kira-kira hampir 100 KM kalo dari sini." Si Rolly menambahkan pertanyaan yang meragukan kondisi motor A Ujang yang memang cukup mengkhawatirkan.

Honda Kirana keluaran tahun 2003, itu tipe motornya. Sebelum dipake A Ujang, motor itu sempat menghiasi kehidupan gua selama lebih dari setahun. Dimulai sejak gua datang ke Batam di awal 2008, sampai akhirnya gua mampu beli bumblebee di pertengahan 2009. Lalu motor itu gua jual ke A Ujang dengan cara bayar kredit ringan khas persaudaraan. Ada uang, bayar. Ga ada uang, santai (yang penting lunas). Dulu motor itu gua kasih nama si "ReSi", yang merupakan idiom dari "Rem Sialan".

Wednesday, August 11, 2010

Happy Ramadhan, Dude!!

Batam, 01 Ramadhan 1431 H

Ini adalah Ramadhan ke-6 yang gua jalani di rantau. Sejak tahun 2005 M / 1426 H, gua selalu ngejalanin puasa di rantau. Memang ga pernah sebulan penuh gua jalanin di rantau, di akhir-akhir bulan Ramadhan mendekati lebaran selalu gua jalani di Kota Halaman.

Ini juga berarti gua udah 6 kali mudik lebaran. Jalur mudik gua selalu berlawanan dengan jalur mudik orang kebanyakan. Biasanya orang-orang pada ngadu nasib dikota, lantas saat lebaran tiba mereka pulang ke udik. Beda dengan gua. Gua ngadu nasib di udik, lantas saat dekat lebaran pulang ke kota.

Oh iya, kawan, Gua ada hutang satu cerita tentang "Si Somad Pindah Rumah -Part 3-". Sebenernya cerita itu udah beres dari seminggu yang lalu. Tapi koneksi inet gua waktu itu lagi ada di tahap menyebalkan, ditambah kesibukan di dunia nyata yang kali ini beneran sibuk, lalu diselingi acara piknik yang penuh dengan kesialan (ini nanti gua ceritain juga), dan disambung dengan sakit selama 2 hari, lalu diakhiri dengan datangnya Ramadhan yang bikin gua ngerasa ga pas buat posting cerita tentang si Somad, karena disitu ada unsur "bergunjing" yang bisa bikin rusak pahala puasa gua, hehehehehe. Jadi ceritanya gua posting abis lebaran aja ya ;).

Monday, August 2, 2010

Si Somad Pindah Rumah -Part 3-

Part 1 ada di sini, part 2 nya di mari.

Setelah ngelantur secara ga jelas tentang dua jenis lelaki yang kurang suka akan terjadinya malam minggu, dan sama sekali ga ada hubungannya sama topik yang gua angkat, sekarang waktunya gua ngumpulin memori tentang kejadian seminggu yang lalu, biar apa yang gua tulisin bener-bener otentik dengan kejadian sebenarnya.

Malam minggu cerah, bintangnya lagi pada genit, gua perhatiin dari tadi tuh bintang ngedipin gua mulu. Kalo ngeliat kondisi alam Batam belakangan ini, agak kecil kemungkinan Batam bisa cerah. Waktu siangnya aja hujan. Hal ini gua rasa "perbuatan" pawang hujan yang disewa sama XL, karena malam itu lagi ada event launching kantor baru XL yang berlokasi disamping kantor gua. Entah gimana cara si pawang nangkal hujan, pastinya penuh dengan mistik dan hal-hal gak logis, walau terkadang dibalut dengan cara "islami".

Setidaknya ada 3 cara nangkal hujan yang pernah gua liat baik secara langsung maupun tidak langsung.

1st, di acara launching clubhouse proyek gua, pihak manajemen sewa pawang yang bersetelan mirip preman taun 80'an. Menggunakan celana jeans hitam, kaos merah lengan panjang dilipat sesikut, rompi hitam, dan sepatu pantofel hitam lusuh. Tampilan preman semakin lengkap dengan rambut gondrong dikuncir, dan kumis yang mirip tirai gorden rumah gua, serta kacamata hitam yang diletakan di atas ubun-ubunnya. Cara si pawang eksentrik ini nangkal hujan adalah dengan berdiri sendirian di tempat sepi di lokasi event dengan gerak bibir kunyem. Hmmm, oke gua salah, sebenernya yang gerak-gerak kumisnya.

Si Somad Pindah Rumah -Part 2-

Part 1 ada di sini.

2. Lelaki "JoNas" (Jomlo Naas). Merka terlahir kedunia seperti layaknya orang biasa, lewat proses yang umum terjadi dan sangat manusiawi. Mereka pun dibesarkan dengan cara yang tidak jauh beda dengan orang kebanyakan, diberikan kasih sayang oleh orang tuanya, diberi makanan yang sama dengan manusia pada umumnya. Walaupun untuk urusan menu tergantung tingkat ekonomi orang tuanya. JoNas berorang tua kaya raya dimanja dengan menu eropa, junk food, dan aneka ragam dessert, intinya kebutuhan gizi si JoNas tipe ini sangat tercukupi. Sebaliknya dengan JoNas berorang tua kurang beruntung, mereka sepertinya sering puasa senin kamis dan hanya makan daging saat lebaran haji. Satu lagi JoNas dengan orang tua yang sedang-sedang saja. Jenis ini termasuk kategori bunglon, maksudnya saat punya duit lebih dia belaga borju, tapi saat kere mereka tak segan memelas untuk sekedar dapet rokok satu batang.

Lelaki JoNas adalah kaum yang sangat memprihatinkan. Penderitaan si JoNas biasanya dimulai saat yang bersangkutan mulai akil baligh dan mulai ingin merasakan hangatnya kasih sayang wanita. Selalu saja ada halangan untuk mencapai keiinginannya itu. Entah itu karena sifat si JoNas yang pemalu yang bikin dia ga berani deketin cewek, atau memang si JoNas yang tidak bisa mengukur kemampuan dalam hal mendapatkan pujaan hati. Untuk jenis JoNas yang terakhir disebut, ada sebuh tips yang sempat diutarakan oleh dosen gua semasa kuliah, yaitu :

Sunday, August 1, 2010

Si Somad Pindah Rumah -Part 1-

Somad. Ya, tulisan gua yang sekarang kembali berhubungan dengan si Somad, jadi kalau udah lupa siapa itu Somad, atau emang belum tau siapa itu Somad, sok mangga di baca dulu yang satu ini.

Kemarin malam adalah malam minggu. Malamnya para lelaki ngapel ke rumah kekasih. Sementara disaat yang sama para wanita yang lagi nunggu diapelin, mengisi waktunya dengan nempelin dempul di permukaan wajah agar tampak terlihat beda didepan pujaan hati. Untuk sebagian wanita, dempul juga bisa berfungsi nutupin jerawat yang timbul akibat mau menstruasi.

Ada dua jenis lelaki yang berharap agar malam minggu menjadi malam yang sebisa mungkin ga terjadi dalam perputaran waktu, yaitu :

1. Lelaki playboy. Buat lelaki model begini, semua malam dia jadikan seperti malam minggu. Ga ada waktu khusus buat ngapel ke rumah pacar. Kenapa? Karena pacarnya banyak. Kaum seperti ini males ngadepin malam minggu karena hal itu bisa bikin dia mutar otak untuk dapetin jurus yang manjur buat ngeyakinin beberapa ceweknya biar ga harus diapelin di malam itu. Nih gua kasih tau beberapa contoh alesan playboy ngadalin pacarnya biar ga harus diapelin :