Obrolan santai selepas kerja antara gua dan dua orang penghuni rumah lainnya terjadi diatas balkon saat senja tiba dan langit mulai menguning pertanda matahari sudah merasa cukup untuk memberikan sinarnya dilangit Batam. Dari mulai ngebahas politik, kasus korupsi, calon Kapolri, sampai kelakuan kumpulan tukang rujak petis yang hobi buang sampah ke parit belakang rumah.
"Minggu depan ke pantai yo! Piknik piknik, mok. Sebelum puasa, seneng-seneng dulu lah." Sebuah topik baru coba gua lemparkan ketengah-tengah forum santai itu.
"Ayo. Gua tau pantai bagus, ky. sebelum camp Vietnam. Pasirnya putih. Paling jaraknya sekitar 1-2 KM dari Camp Vietnam. Kemaren gua kesono bareng si bule." Topik baru gua ternyata cukup dapat sambutan dari si Rolly.
"Motornya kuat ga, A Ujang? Lumayan jauh loh, kira-kira hampir 100 KM kalo dari sini." Si Rolly menambahkan pertanyaan yang meragukan kondisi motor A Ujang yang memang cukup mengkhawatirkan.
Honda Kirana keluaran tahun 2003, itu tipe motornya. Sebelum dipake A Ujang, motor itu sempat menghiasi kehidupan gua selama lebih dari setahun. Dimulai sejak gua datang ke Batam di awal 2008, sampai akhirnya gua mampu beli bumblebee di pertengahan 2009. Lalu motor itu gua jual ke A Ujang dengan cara bayar kredit ringan khas persaudaraan. Ada uang, bayar. Ga ada uang, santai (yang penting lunas). Dulu motor itu gua kasih nama si "ReSi", yang merupakan idiom dari "Rem Sialan". Tuh motor emang bisa dibilang kagak ada rem-nya. Kalo pake motor itu, kita harus bisa ngandelin perpindahan gigi yang memberikan efek engine break, harus bisa menggunakan metoda "ngocok" rem depan yang masih pake tromol, harus punya insting kuat seorang rider, dan yang terakhir, harus selalu berdoa kepada Alloh SWT agar kita selalu diberi keselamatan di perjalanan.
"Kalo sendirian kuat lah, nanti di serpis dulu" A Ujang menjawab dengan logat sunda yang kental dan tanpa ekspresi.
"Cukup ga motornya kalo A Ujang sendiri?"
"Santai lah, ntar gua nyari pinjeman mobil, biar gua bisa ajak Kakak Sepupu gua sama keluarganya sekalian." Gua segera memberikan solusi, biar tanpa si "ReSi" acara jalan-jalan sebelum Ramadhan ini bisa tetap terlaksana, dan semua orang yang mau ikut terangkut.
Hari - H tiba. Toyota Innova coklat metalic bertransmisi matic hasil minjem dari kenalan subkon di proyek gua, udah nongkrong di pelataran rumah kontrakan. Body-nya bersih, dalemnya wangi, tapi bensinnya empty. Baru aja gua starter mesinnya, lampu indikator bensin langsung kudap-kedip kaya orang cacingan. Mau ga mau kalo udah begini pom bensin jadi tempat pertama yang gua tuju. Lagian si Pak Adi minjemin mobil nanggung amat sih, bukannya isiin bensin sekalian.
Posisi jok sopir gua rubah sedikit mundur, karena setelan posisi jok sebelumnya bikin perut gua agak mentok ke setir. Lalu spion kiri dan kanan gua stel lewat tombol-tombol otomatis yang ada di bawah setir sebelah kanan, spion tengah disesuaikan, MP3 di mainkan, lepas rem tangan, injak rem kaki, masuk ke transmisi "D", ngaca sebentar, lepas rem kaki, lalu injak gas pelan-pelan. Harus pelan soalnya disekitar rumah banyak polisi jongkok (terlalu tinggi untuk dibilang polisi tidur), dan anak-anak kecil yang orang tuanya pada ga tanggung jawab.
**untuk informasi, kalo gua perhatikan dari cara ngejagain anak kebanyakan orang tua di Pulau ini, gua bisa ambil kesimpulan bahwa mereka niat ga niat jagain anaknya. Mungkin dalam hatinya berkata bila si anak bisa dilepas aja kaya anak ayam, para orang tua aneh itu bakalan lebih senang. Kalo hal ini terjadi di kampung / daerah pedalaman bisa aja jadi hal lumrah, tapi ini Batam. Gua rasa para orang tua itu belum bisa mengikuti perkembangan jaman. Jadi berhati-hatilah saat berkendara di pulau ini, khususnya saat memasuki daerah permukiman, dan jangan kaget saat lu mau nikung tiba-tiba di tikungan ada anak umur 2-3 tahun lagi asik main pasir dan orang tuanya mungkin sedang nonton sinetron korea.
"Eh, tolong liatin tangkinya dikiri atau dikanan?" Gua bertanya ke semua orang yang ada di mobil Sambil tetap konsen nyetir dalam kecepatan sedang.
"Di Kiri, Ky." A Ujang menjawab, setelah sebelumnya melakukan gerakan tengok kiri kanan untuk mencari posisi tangki bensin.
"ini lagi, cantolan buat buka tangkinya dimana ya, mok?" Sambil nyengir gua kembali nanya, kali ini pertanyaan gua tujukan ke si Rolly. Maklum lah, ini kali pertama gua nyetir Innova, jadi agak gaptek dikit wajar lah.
"Biasanya sih disamping jok."
"Ga ada, udah gua colok-colok ga ketemu. Apa buka tangkinya masih harus pake kunci ya?"
"Ga lah, lu pikir angkot. Di bawah jok kali."
"Tau deh, kalo di bawah susah nyarinya. Harus sambil berhenti."
"Di depan mungkin, Ky, di daerah dashboard." A Ujang tiba-tiba nyaut dari belakang.
"Oh iya, bener, A. di depan cantolannya. Sip lah!" Ternyata untuk mobil Innova, posisi cantolan buat buka tangki bensin ada di depan. Posisinya rendengan sama cantolan buat buka kap mesin. Untuk hal-hal seperti ini, A Ujang memang lebih ahli. Ini sesuai dengan profesinya semasa di Bangdung yang seorang tukang cat duco, jadi segala macam mobil memang pernah dia tangani.
###
Formasi di mobil sudah terisi penuh. Totalnya 9 orang. 6 orang dewasa, 2 Anak-anak, dan 1 remaja tanggung. Waktu udah hampir tengah hari, perjalanan yang cukup panjang masih didepan mata sebelum akhirnya kita bisa menikmati aroma piknik. Biar bisa sampai lebih cepat, pedal gas gua tekan aga dalam.
Di Batam, ada yang namanya "Barelang". Itu idiom dari Batam, Rempang, Galang. Itu adalah nama tiga pulau besar (termasuk besar untuk sebuah pulau di daerah Kep. Riau) yang dihubungkan lewat jembatan-jembatan di atas laut, total ada enam buah jembatan, karena ada pulau-pulau kecil yang juga dilewati untuk akhirnya bisa sampai ke pulau besar itu. Begini urutannya : Batam, Tonton, Nipah, Setokok, Rempang, Galang, Galang Baru. Jembatan ini adalah ciri khas Batam, katanya belum pernah ke batam kalo ga pernah foto-foto di jembatan barelang, kalo gua udah sering...nih buktinya ;)

Mobil gua pacu semakin kencang. Berbagai macam kendaraan lambat gua salip tanpa ampun tapi tetap dengan cara nyalip yang sopan. Dalam berkendara sebuah prinsip "ngebut tapi sopan" harus selalu jadi pedoman saat memang kita lagi ngejar waktu, tapi kalo lagi santai ngapain ngebut segala?
Sekumpulan pengendara sepeda motor terlihat sedang konvoi didepan gua, kelakuannya tengil, udah kaya jalan milik mereka doang, yang laen kalo mau pake harus bayar pajak. Senga ngeliat kelakuan mereka, saat ada kesempatan gua tancap gas sekena-kenanya sambil bunyiin klakson. Saat semua motor terlewati, pikiran gua sedikit berkilas balik ke masa-masa gua masih suka konvoi kaya mereka. Mungkin yang ada dipikiran yang pake mobil waktu itu saat jalannya gua halangin bareng anggota konvoi lainnya sama dengan pikiran gua sekarang, yaitu : MINGGIR KALIANNNNNN!!!! Tapi itulah hidup. Selalu berputar, kawan. Kalo ga berputar, kita ga pernah bisa belajar dari pengalaman. Setidaknya sekarang gua tau bahwa kelakuan gua waktu itu adalah kelakuan yang MENYEBALKAN!
Setelah melewati lima buah jembatan, sampailah gua di Pulau Galang. Pulau yang memang gua tuju untuk dijadikan tempat piknik. Tidak jauh dari jembatan itu, ada sebuah belokan ke kanan, masih jalan tanah. Itu adalah belokan ke pantai yang akan kita tuju. Ternyata nama pantainya adalah "Mirota Pantai - Pasir Putih", begitu yang terpampang dalam plang di pas jalan masuknya.
Anak bungsu Teh yuyun (kakak sepupu gua) udah bising didalem mobil, rewelnya amit-amit dah. Dia pengen cepet-cepet berenang, sedangkan tujuan kita yang pertama sebelum basah-basahan di pantai adalah ke Camp Vietnam yang jaraknya masih 1-2 KM arah selatan Mirota Pantai.
Lewat tengah hari gua dan rombongan sampai di Camp Vietnam. Foto-foto tentunya jadi menu utama. Tapi ga banyak tempat di Camp Vietnam gua singgahi, karena males, soalnya dari satu situs peninggalan ke peninggalan lainnya lumayan jauh juga jaraknya. Kalo parkir mobil disatu tempat, trus kita jalan kaki untuk sampai ke tempat lainnya, maka disamping kurang aman karena banyak monyet-monyet yang kelaparan dan cukup buas, hal itu juga bisa bikin betis kita mendadak seperti tukang odong-odong. Jadi cara seperti itu emang kurang bijak untuk dilakukan, alhasil hanya di spot-spot yang menurut kita menarik saja, gua bersedia untuk memberhentikan mobil dan melakukan aktifitas kenarsisan yang sudah mendarah daging. Kalo mau liat foto-fotonya klik disini.
Camp Vietnam adalah tempat pengungsian orang Vietnam semasa perang lawan begundal-begundal Amerika, dimana ternyata menurut versi Hollywood pemenang perang ini adalah Rambo. Dengan ketangguhan Rambo yang seperti itu, waktu kecil, selain Hulk dan B.A. "The A Team", Rambo adalah salah satu idola gua.
Orang Vietnam pada ngungsi pake perahu tradisional, dan entah gimana caranya akhirnya mereka nyampe di Pulau Galang setelah katanya melahap perjalanan laut selama berbulan-bulan. Katanya juga nih, banyak juga yang meninggal di laut dan ga nyampe ke daratan.
Mereka mulai membentuk komunitas di Pulau Galang sejak tahun 1979 - 1996, sebelum akhirnya dipulangin ke kampung halaman sama PBB, atau sebagian juga ada yang berimigrasi ke Negara lain. Semua jejak-jejak peninggalan para pengungsi Vietnam ini dilestarikan oleh Otorita Batam untuk kepentingan pariwisata. Untuk ukuran tempat ngungsi, rasanya tempat ini cukup nyaman. Ada sekolahannya, ada rumah sakitnya, ada tempat ibadahnya, ada penjaranya, ada kuburannya, dan barak-barak pengungsi juga terbuat dari bangunan semi permanen.
Jadi pantes aja, sebagian pengungsi ada yang nolak secara tegas saat mau dipulangin sama PBB. Disamping trauma sama kondisi perang, pastinya mereka juga sudah punya kehidupan baru yang belum tentu bisa mereka dapatkan bila harus pulang kampung mengikuti anjuran PBB. Macam-macam cara untuk mengekspresikan penolakannya itu. Ada yang bakar perahu, ada yang ngamuk-ngamuk, ada yang nangis-nangis histeris, yang paling ekstrim ada satu keluarga yang bunuh diri dengan cara ngebakar baraknya. Barak reyot bekas di bakar itu masih ada disana.
Camp ini juga terkenal angker. Pada masa jaya-jayanya acara "nantangin setan" di tipi-tipi, tim Uka-uka dari TPI, dan tim Dunia Lain dari Trans TV pernah nyoba tempat ini jadi lokasi uji nyali. Sebuah kabar burung tentang keangkeran Camp ini akhirnya sampai ke telinga gua. Katanya, ilmu seorang Ki Joko Bodo pun gak mempan buat ngeladenin jin-jin Vietnam ini. Entah sesakti apa si jin Vietnam itu sampe-sampe Ki Joko Bodo ga berani buat ngedatengin beberapa spot di camp ini. Atau mungkin juga ilmu Ki Joko Bodo sudah banyak terkikis karena dia terlalu stress akibat gak dapat-dapat jodoh di acara Take Him Out.
Saran gua, kawan. Jangan pernah dateng ke camp ini di malam hari, apalagi sendirian. Bukan karena tempat ini angker, bukan juga karena banyak setannya. Tapi, ya emangnya lu mau ngapain dateng kesitu malem-malem? Udah setresss lu ya? Mendingan ke tempat dugem, biar bisa liat "setan" dalam kemasan yang lebih menarik.
-to be continue, kepanjangan soalnye-
No comments:
Post a Comment