Monday, August 2, 2010

Si Somad Pindah Rumah -Part 3-

Part 1 ada di sini, part 2 nya di mari.

Setelah ngelantur secara ga jelas tentang dua jenis lelaki yang kurang suka akan terjadinya malam minggu, dan sama sekali ga ada hubungannya sama topik yang gua angkat, sekarang waktunya gua ngumpulin memori tentang kejadian seminggu yang lalu, biar apa yang gua tulisin bener-bener otentik dengan kejadian sebenarnya.

Malam minggu cerah, bintangnya lagi pada genit, gua perhatiin dari tadi tuh bintang ngedipin gua mulu. Kalo ngeliat kondisi alam Batam belakangan ini, agak kecil kemungkinan Batam bisa cerah. Waktu siangnya aja hujan. Hal ini gua rasa "perbuatan" pawang hujan yang disewa sama XL, karena malam itu lagi ada event launching kantor baru XL yang berlokasi disamping kantor gua. Entah gimana cara si pawang nangkal hujan, pastinya penuh dengan mistik dan hal-hal gak logis, walau terkadang dibalut dengan cara "islami".

Setidaknya ada 3 cara nangkal hujan yang pernah gua liat baik secara langsung maupun tidak langsung.

1st, di acara launching clubhouse proyek gua, pihak manajemen sewa pawang yang bersetelan mirip preman taun 80'an. Menggunakan celana jeans hitam, kaos merah lengan panjang dilipat sesikut, rompi hitam, dan sepatu pantofel hitam lusuh. Tampilan preman semakin lengkap dengan rambut gondrong dikuncir, dan kumis yang mirip tirai gorden rumah gua, serta kacamata hitam yang diletakan di atas ubun-ubunnya. Cara si pawang eksentrik ini nangkal hujan adalah dengan berdiri sendirian di tempat sepi di lokasi event dengan gerak bibir kunyem. Hmmm, oke gua salah, sebenernya yang gerak-gerak kumisnya.

2nd, di stadion Siliwangi, tiap kali Persib tampil, selalu ada kakek-kakek yang cara nangkal hujannya adalah dengan membawa batang lidi yang dipecut-pecutkan ke sekeliling lapang.

3rd, di TV gua liat ada nenek-nenek yang nangkal hujan dengan cara "sholat". Ini yang gua maksud dengan cara berbalut "islami". Setau gua dalam Islam ga ada tuh sholat penangkal hujan, yang ada malah sholat minta hujan (sholat istisqo). Kalo gua salah tolong dibenerin.

Saran gua, jangan pernah percaya sama hal-hal begitu deh, cukup doa aja sama Alloh SWT kalo pengen hujannya berhenti, karena Alloh yang ngatur cuaca di jagat raya ini. Kun fayakun, kalo Alloh mau, jangankan buat berhentiin hujan, nurunin salju di Batam aja cuma hal kecil buat Alloh SWT. Doa dengan cara yang benar tentunya, ga usah dilebih-lebihin dengan segala macam ritual atau dikurang-kurangin, ntar jatoh-jatohnya malah jadi bid'ah. *kembali pasang wajah ustadz, lengkap dengan aksesoris kopiah haji, sorban, sarung, dan baju koko*

Acara launching kantor baru XL itu berpusat di Stadion Tumenggung Abdul Jamal, satu-satunya stadion sepak bola di Pulau Batam yang terletak sekitar 5 KM sebelah selatan pusat kota Batam. Ada Ari Laso jadi bintang tamu di acara itu. Gua tau ada acara itu, ya karena spanduk segede gaban yang ngasih tau bakalan ada Ari Laso malam itu ada di samping kantor gua.

Malam itu si Somad pulang larut banget. kurang lebih 11.30 pm bau badan khas-nya baru mulai menambah polusi kamar gua (kamar kita maksudnya). Intuisi gua bilang kalo si Somad pasti abis dari konsernya Ari Laso bareng ceweknya. Intuisi gua berdasar pada kegemaran ceweknya si Somad sama Ari Laso. Soalnya kalo dia lagi nyanyi-nyanyi, salah satu lagu wajib dia adalah lagu Ari Laso yang "Cinta Sejati", disamping lagu Broery Pesolima yang lagi duet sama Dewi Yul yang potongan liriknya seperti ini "semua terserah padamu aku begini adanya, kuputuskan kehormatanmu, apapun, yang akan, kau katakan". Kalo lagunya si Somad? Segala macam lagu dia suka, asalkan aransemennya di-remix jadi house music. Selera musik khas supir angkot di Sumatera dan sekitarnya.

Gaya pacaran si Somad sama seperti orang kebanyakan, dimana malam minggu dijadiin waktu spesial buat dia ngapelin ceweknya. Mungkin karena hal itu saat dia pulang selarut itu, baunya ga terlalu menyengat seperti biasanya. Gua rasa sebelum dia ngapel, dia sempat mandi dulu di kantornya pake air yang udah dicampur sama bibit parfum isi ulang.

"Gua besok jadi pindah, Ky." Si Somad memulai obrolan dengan muka lesu kecapean sambil buka lemari buat ngambil kostum tidur. kostum tidur si Somad adalah celana boxer warna kuning dengan sablonan gambar daun ganja yang sudah luntur, tanpa baju, tanpa kaos dalam. Ya, dia telanjang dada, jadi bisa dibayangkan kan kalo dia pulang kerja dan ga mandi bau yang gua hisap seperti apaan?

"Owh, oke! Gua kira lu becanda mau pindah." Gua jawab dengan tetap mata terfokus pada layar laptop yang lagi memperlihatkan tampilan program Auto CAD.

"Bulan November nanti gua nikah. Biar ga usah repot lagi nyari kontrakan, jadi gua pindah dari sekarang. mumpung ada rumah kosong deket rumah kakaknya si Sari (nama samaran)".

"Haaaaaahhhhh? Serius lu?" Ekspresi kaget dibuat-buat tampak di wajah gua. Sebenernya gua ga kaget, tapi cara menghormati kabar yang datang secara tiba-tiba memang harus dengan ekspresi kaget, biar lebih terlihat excited.

Memang tipikal si Somad yang kalo ada apa-apa selalu dipendem aja, dan baru di-sharing setelah injury time. Seperti hal-nya waktu dia ngasih tau gua kalo dia mau pindah rumah. Hal itu dilakukan sekitar H-5 dari hari kepindahan. Waktu itu dia belum ngasih tau alasan kepindahan, dan gua pun ga ngorek keterangan dari dia.

"Iya serius. Orang tua dikampung udah saling silaturahmi." Jelas dia.

"Kawin dimana lu? Di kampung?"

"Iya."

Lalu gua kembali manyun ngadepin program Auto CAD, dan si Somad rebahan di kasur sebelum akhirnya dia tidur.

Cuma begitu-begitu aja cara gua komunikasi sama si Somad. Irit, ringkas, padat, tidak begitu jelas, dan lebih banyak obrolan tak berisi yang berulang-ulang dia tanyakan, seperti :
1. "Ngapain lu, ky?" Gua jawab "biasa lah", atau gua balik nanya "keliatannya?".
2. "Udah siap makan, ky?" Gua jawab "udah", atau "ntar aga maleman". **orang melayu biasa menggunakan kata "udah siap", kalo kita yang bukan melayu biasa menggunakan "udah selesai"**
3. "Ada film apa lu, ky?" Gua jawab "tuh, pilih aja sendiri".
4. "Lu punya program 'anu', ky?" Gua jawab "punya" atau " ga punya" atau "ga tau" atau "program apaan sih?" dan lain sebagainya.

Mata mulai sepet, jam dinding berbentuk kodok, dengan kaki yang bergoyang-goyang menandakan berjalannya detik kepunyaan si Somad yang di beliin sama si Sari udah menunjukan pukul 02.30 am. Ayam-ayam stres udah mulai berkokok padahal belum waktunya. Anjing tetangga depan rumah yang orang keturunan China menggonggong ga karuan. Gua rasa ada yang ga beres dengan tingkah polah kedua hewan tersebut. Lalu gua ingat kata-kata orang tua jaman dulu bahwa hewan itu bisa melihat aktifitas makhluk ghaib, dan saat melihat aktifitasnya itu, si hewan bisa bersuara seolah tanpa sebab.

Serrrrr, darah mengalir hingga ke area bulukuduk (pertanyaannya, dimanakah area bulukuduk itu?).

Merinding juga gua dibuatnya. Dengan begitu ga ada alasan untuk gua ga mulai melakukan rutinitas sebelum tidur, walaupun besoknya adalah hari minggu. Apalagi dikasur sebelah gua lihat si Somad sudah nikmat berada di alam mimpinya. Rasanya cerita dari mulut ke mulut tentang keseraman rumah yang gua tempatin ini cukup untuk dijadikan alasan si ayam dan si doggy untuk bersuara tidak pada waktunya. Mungkin mereka ngeliat "yang punya rumah" baru pulang.

Lalu laptop pun beralih fungsi , AutoCAD gua close dan PowerDVD gua klik 2 kali. Film pengantar tidur gua waktu itu adalah "Deception", yang maen si Hugh Grant dan Ewan McGregor.

Prinsip bangun tidur di hari minggu adalah jangan sampai keduluan sama adzan dzuhur, dan prinsip itu berhasil gua jaga. Gua bangun sekitar pukul 11.00 am. Beda sama tadi malam yang cerah, cuaca siang itu adem dan hujan rintik-rintik dengan tingkat kerapatan jatuhnya air langit sangat tinggi membasahi Batam, sehingga sudah sesiang itu matahari masih malu-malu muncul ke permukaan. Sebuah cuaca yang sangat bersahabat di hari minggu, dan sangat nikmat bila digunakan untuk kembali memejamkan mata atau untuk sekedar bermalas-malasan di kasur spring bed gua yang sudah mulai mengeras pengaruh masa pakai yang sudah bertahun-tahun.

Dengan bangun sesiang itu, ternyata gua melewatkan banyak hal. Mata sembab dan masih setengah mateng karena baru terbuka setelah terpejam sekitar 8 jam itu mengitari seluruh sudut kamar dan mendapati keadaan kamar yang begitu berdebu serta lowong dibeberapa bagian yang biasanya terisi.

Lemari, dan kasur si Somad sudah tidak diposisi biasanya dan menyisakan debu serta kotoran yang sudah menempel di keramik. Hmmm, kayaknya si Somad udah pindah dan ga pamit dulu ke gua yang begini-begini juga berstatus RT di rumah ini. Atau mungkin dia ga tega ngebangunin gua yang sedang tidur, jadi ga pamit dulu? Atau mungkin juga obrolan semalam sudah dirasa cukup dan tak perlu ada sandiwara perpisahan lagi? Ahh apapun alasannya, koq bisa-bisanya ya si Somad ninggalin gua dalam keadaan begini? Bukan karena ga pamit sebenarnya, tapi ini debu peninggalan si Somad bener-bener bisa bikin gua harus kerja rodi buat ngebersihinnya. Ah, Somad Somad.

Selepas mata terbuka, menggeliat dan kucek-kucek mata adalah salah satu ritual yang juga biasa gua lakukan sebelum bisa terhubung secara sempurna dengan keadaan sekitar. Setelah kondisi fisik agak mendingan, gua memutuskan untuk bikin kopi. Sebuah ritual juga. Kelak setelah gua punya istri, rasanya saat bangun tidur gua bakalan langsung mendapati secangkir kopi manis yang diletakan dengan manis di sebuah meja yang dihidangkan oleh wanita manis pujaan hati, ah senangnya.

Gua turun ke lantai bawah untuk ngambil cangkir, dan woooowwww, ternyata lemari, kasur, koper, dan segala macam tektek bengek kepunyaan si Somad ada dilantai bawah. Ternyata si Somad belom resmi pindah dari rumah ini.

Dibawah ada A Ujang lagi lagi nonton TV, lalu gua nanya ke A Ujang "Si Somad ke mana, A?"

"Keluar sama si Sari, ga tau kemana".

"Owh, Barang-barangnya belom dipindahin ya?"

"Belom, dari pagi hujan, jadi barangnya belom di angkut".

Sudah lewat jam 2 siang, tapi si Somad belum juga menunjukan batang hidungnya. Barang-barang si Somad juga masih numpuk dibawah. Tadinya gua baru akan beres-beres kamar setelah si Somad resmi pindah dan ga ada satupun barangnya yang tertinggal di rumah ini. Pertimbangannya adalah masalah kemanusiaan. Kurang manusiawi rasanya kalo gua beresin kamar dan merubah posisi barang-barang agar nyaman untuk digunakan sendiri, sedangkan partner sekamar gua belum resmi melepas hak-nya di kamar ini. Tapi kalo harus nungguin si Somad dulu koq kayanya gua bakal keteteran ngeberesinnya. Mengingat kadar kepekatan debu yang ada di kamar gua cuma beda tipis sama sol sepatu yang baru menginjak tanah basah, dan itu memerlukan waktu yang cukup lama agar bisa terlihat cling kembali, maka gua pun membulatkan tekad untuk memulai kerja rodi ini tanpa mengindahkan masalah kemanusiaan.

Rak, kasur, lemari, travel bag, tas, tempat baju kotor, dan lain sebagainya gua ungsikan dulu keruang tengah agar kamar gua kosong dan gua jadi leluasa buat ngusir debu-debu sialan ini. Barang-barang yang sudah tidak terpakai gua masukin kedalam kantong keresek ukuran 5kg, untuk selanjutnya dicampakan di tempat sampah. Mau tau berapa kantong keresek yang gua gunakan buat nampung sampah-sampah yang ada di kamar gua? Surprise, dua buah Kantong keresek gua gunakan untuk nampung sampah-sampah itu. Gua ga nyangka kalo ternyata selama ini gua tidur bareng sama sampah-sampah, astagfirullahaladzim.

Berbekal senjata kebersihan berupa sapu, pengki, kain pel, dan ember, gua mulai aktifitas mengkinclongkan kamar tercinta. Sapuan dilakukan dari ujung ruang sampai ke ujung ruangan yang satunya lagi. Debu hasil sapuan dari yang awalnya berupa butiran-butiran halus, saat disatukan oleh sapu berubah menjadi gumpalan-gumpalan yang seperti benang kusut berwarna hitam keabu-abuan. Disinilah si pengki mulai memainkan fungsinya, gumpalan debu tersebut ditampung oleh pengki, lalu dibuang ke tempat sampah. Hasil sapuannya? Hanya sekitar 50% saja debu yang bisa di sapu, sisanya nempel di keramik, astagfirullahaladzim.

Gua rasa debu yang nempel itu cuma bisa lepas kalo dibantu dengan kain pel basah yang digosokan kebagian-bagian berdebu tersebut. MakDarIt, kegiatan gua selanjutnya adalah m.e.n.g.e.p.e.l.

Seluruh bagian kamar gua pel, dan hasilnya bisa di tebak. Tetap kotor, tetap berdebu, hanya saja kotoran yang nempel itu bisa terlepas. Kalo begini caranya, brarti gua harus melakukan kegiatan nyapu dan ngepel sebanyak minimal dua trip. Ahh, andai saja gua punya jurus kaya Percy Jackson, rasanya si sapu, si pengki, si kain pel, dan si ember itu bisa bekerja secara otomatis hanya dengan lafalan mantra. Palingan gua cukup ngemandorin aja sambil ngopi biar kerjanya ga asal-asalan.

Trip kedua nyapu dan ngepel sudah selesai. Kamar gua sudah jauh lebih manusiawi dibanding sebelumnya, tapi kerjaan gua ga beres sampai disitu. Si kasur, si lemari, si rak, si travel bag, dan lain sebagainya masih nunggu giliran untuk dipindahkan ke posisinya masing-masing. Posisi baru tentunya. Posisi yang lebih nyaman, karena ga bercampur dengan barang-barang si Somad.

Sekitar satu jam kemudian, semua barang-barang itu sudah nyaman di posisinya masing, mau tau kaya apaan posisinya? Oke, nih lihat.


Gimana kamar gua? Oke kan, kawan? Rapih kan? Rapih dong ah. Ya untuk ukuran bujangan rapih banget lah, cuma kurang karpet doang. Ntar lah abis lebaran gua beli karpet, itu juga kalo duit THR masih ada sisa :D.

17.37 pm, itu waktu yang terpampang di bagian bawah sebelah kanan layar laptop gua. Pada saat itu bau-bau si Somad mulai tercium. Dan memang si Somad lagi ada di bawah bareng si Sari. Mereka lagi sibuk naik-naikin barang-barang keatas mobil kijang buntung dibantu sama A Ujang dan si Oni. Mendengar aktifitas dibawah, gua yang lagi asik main game tergerak untuk ikut membantu. Dasar rejeki, saat gua sampai dibawah, barang terakhir sudah selesai dinaikan keatas mobil bak itu. Otomatis, gua ga perlu ngeluarin lagi keringat gua yang sedari tadi sudah mengucur deras akibat beres-beres kamar sendirian, tanpa bantuan siapapun.

Dan sandiwara perpisahan pun dimulai. Ga ada yang dramatis sih, soalnya karakter si Somad memang sangat jauh dari lebay. Jadi ga ada acara peluk-pelukan dan nangis-nangisan seperti di acara Akademi Fantasi Indosiar saat salah satu kontestannya di eliminasi. Cuma say goodbye, salaman, lalu si supir tancap gas. Begitu doang, ga rame kan?

"Gua berangkat ya." Kata si Somad.

"Oke, hati-hati, Mad. Jangan lupa pake kondom ya, kalo ga ada kondom pake kaos kaki aja biar aman." Begitu pesan terakhir gua buat si Somad

Mendengar pesan itu hanya ekspresi datar yang ditunjukan si Somad. Tak ada tawa, jawaban, atau bantahan akan pesan itu. Lalu gua berkesimpulan bahwa si Somad ga ngerti apa yang gua ucapkan. Ups, gua lupa kalo pesan gua itu sangat tidak EYD. Ah, sudahlah, memang Somad akan tetap seperti itu. Tetap seorang dengan ke-khas-an yang belum tentu gua temui lagi pada diri orang lain.

Pepatah bilang, "berakit-rakit kehulu berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian". Artinya ya setelah hampir 2 tahun gua berbagi ruangan dengan si Somad, akhirnya ruangan berukuran 3x6 m lengkap dengan kamar mandi didalamnya itu sekarang hanya milik gua seorang. Indahnya.

No comments:

Post a Comment