Sampai di hotel, dua gelas welcome drink langsung disuguhkan oleh pelayan tanpa sempat gua duduk terlebih dahulu untuk mengurus keperluan check in. Tapi gua ketipu, kawan. Minuman berwarna orange itu awalnya gua pikir adalah orange juice, tapi setelah gua minum ternyata jus mangga. Untuk menjaga gengsi, terpaksa ga gua muntahkan lagi minuman itu. Tanpa dirasa (walaupun kerasa) langsung gua telan minuman itu dan dengan cepat gua minum air mineral untuk menetralisir rasa aneh di mulut gua.
For information : Gua adalah orang yang ga suka buah-buahan kecuali jeruk, dan ga suka sayur-sayuran kecuali kangkung dan wortel serta kol yang sudah diolah menjadi bakwan. Kalo ga jadi bakwan walaupun bahannya wortel dan kol tetap ga suka. Kalo dibikin bakwan tapi isinya toge dan dan wortel tetap gua ga suka. Komposisinya harus tetap, wortel + kol dan ditaburi daun bawang lalu diolah menjadi bakwan. Jika komposisi bakwannya adalah wortel + kol dan ditaburi daun seledri maka tetap gua ga suka. Komposisinya sudah paten seperti itu, berubah sedikit saja gua ga suka. Ribet kan? Ah, ngga juga. Itu sih perasaan kalian saja.
Proses check in selesai, kunci kamar pun ada di genggaman gua. Seharusnya hari itu gua istirahat, dan baru melakukan tour keesokan harinya. Tapi berhubung gua lagi ada di Bali, rasanya mubazir kalo ada waktu kosong dan ga gua gunakan untuk melakukan hal-hal menyenangkan dan menelusuri Pulau ini.
Untuk mensiasati waktu kosong itu, sebuah proses kongkalikong dan juga simbiosis mutualisme gua lakukan dengan Pak Wayan dan Pak Ketut. Gua minta tour tambahan ke lokasi yang tidak temasuk dalam paket, tentunya dengan kompensasi mengorbankan beberapa lembar rupiah berwarna merah yang digunakan sebagai biaya "transport". Tujuan tour kongkalikong itu ke Kintamani yang terkenal lewat ras anjing-nya yang khas dan Pura Besakih yang merupakan Pura terbesar di Pulau itu.
Ga masalah kan? Pastinya ga masalah selama orang kantor di tempat gua membeli paket tour itu tidak ada yang tahu. Dengan begitu gua senang karena rupiah yang gua keluarkan lebih sedikit, Pak Wayan Senyum-senyum, Pak Ketut berkurang kesangaran di wajahnya, dan si Dinda tentunya bahagia bukan kepalang, soalnya selama di Bali dia jadi cewek gratisan.
Sedikit intermezo tentang si Dinda. Gua sayang banget sama adik gua yang satu ini. Entah kenapa. Walaupun kelakuannya menyebalkan, matrenya minta ampun, cengengnya khas para wanita, dan bibirnya monyong banget, rasa sayang gua ga pernah berkurang sedikitpun.
Pernah dulu waktu gua SMP dan si Dinda masih balita, gua dimarahin sama Nenek (alm) dan Uwak gua karena beliin si Dinda es krim. Hal itu bikin anak-anak lain yang seumur si Dinda pada sirik kepengen es krim. Padahal katanya Nenek dan Uwak gua saat itu lagi ga punya duit buat beliin es krim untuk mereka. Dimarahin begitu gua langsung nangis new delhi (jangan bombay mulu), gua sakit hati, berasa apa yang gua lakukan tidak ada artinya dimata mereka, padahal niat gua beliin es krim cuma pengen nunjukin rasa sayang gua ke si Dinda dan bikin dia senang dengan cara berbagi sedikit uang yang gua punya lewat es krim itu. Tidak ada niat untuk membuat anak-anak lain jadi sirik, tidak juga terfikir hal itu akan membuat Nenek dan Uwak gua jadi marah.
Rencana gua ke Bali pun diawali dari niat gua untuk menghentikan tangisan si Dinda yang curhat tentang waktu libur lebarannya yang berkurang karena ada acara perwalian di kampusnya yang bikin dia harus mengundur rencana pulangnya selama SATU HARI DARI JADWAL SEMULA.
Lebay kan? Cuma mundur sehari aja pake acara curhat sambil mewek! Tapi itulah wanita yang punya jurus ampuh lewat air mata buayanya. Jurus begini selalu berhasil bikin kaum Adam terkulai lemas tak berdaya menghadapinya, termasuk gua. Entah ada setan apa waktu itu, tiba-tiba saja disela-sela tangisan si Dinda gua berucap, "Udah jangan nangis, entar abis lebaran kita main ke Bali." Dan memang kata-kata gua bikin suara si Dinda berubah drastis dari awalnya melankolis disertai isak tangis menjadi sumringah walaupun tetap masih ada isakannya sedikit.
Sayang banget gua sama wanita berbibir tebal dan berhidung minimalis itu. Mungkin awalnya karena gua merasa "kasihan" dengan nasibnya yang tidak pernah merasakan kehadiran Almarhum Mamah. Kebetulan Ibu kandung gua meninggal sehari setelah melahirkan si Dinda, waktu itu umur gua hampir tujuh tahun.
Gua pernah dengar cerita dari teman gua. Dia bercerita bahwa temannya ada yang bernasib serupa tapi tak sama dengan si Dinda, yaitu ditinggal mati Ibunya sesaat setelah melahirkannya. Bedanya temannya teman gua itu dianggap biang keladi dan pembawa sial oleh keluarganya karena dengan kehadiran dia menyebabkan Ibunya meninggal. Sungguh picik dan bodoh pikiran macam itu.
Untung si Dinda masih punya keluarga yang berakal sehat sesehat bayi-bayi di iklan susu. Dia tidak kita anggap sebagai biang keladi penyebab Mamah gua meninggal. Malah lewat namanya dia dianggap sebagai pengganti kehadiran Nyokap gua. DINDA GANTINI HERNAWATI BAGJANA. Kata DINDA berarti adik, GANTINI berawal dari pelestan GANTIIN / MENGGANTIKAN, HERNAWATI adalah nama belakang almarhumah Nyokap, dan BAGJANA adalah nama wajib semacam marga yang secara tidak resmi akan tetap dilestarikan (Insya Alloh). Jika dirangkai dalam sebuah kalimat jadi seperti ini : Anak terkecil keluarga Bagjana yang menggantikan kehadiran Ibu tercinta. Sebuah nama yang tidak banyak berfilosofi tapi begitu dalam artinya, paling tidak itu menurut gua.
Cukup sudah intermezo yang katanya sedikit tapi ternyata kepanjangan dan mengandung kata-kata lebay yang keluar dari gua yang gagah ini. Sekarang mari kita bahas kembali masalah Bali.
Tour kongkalikong itupun dimulai. Diperlukan waktu sekitar 1,5 jam dari Sanur untuk sampai ke tempat tujuan : Kintamani. Tempat wisata pegunungan dengan view indah sebuah gunung berapi aktif bernama Gunung Batur yang dibawah gunungnya terdapat danau luas yang dinamai sama dengan nama gunungnya, Danau Batur.
Dikaki gunung terdapat sebuah perkampungan bernama Desa Trunyan, dimana masyarakat disitu katanya masih primitif, dan punya kebiasaan unik yaitu tidak mengubur mayat, melainkan hanya meletakannya saja diatas permukaan tanah. Yang punya phobia sama mayat, rasanya ga cocok untuk datang ke Desa Trunyan.
Di Kintamani, gua dan si Dinda masuk ke salah satu restoran yang ada dipinggir jalan yang menawarkan view langsung menghadap gunung dan danau. Kita duduk dan memesan minuman. Gua minum kopi, dan si Dinda minum jus jeruk. Kita ga pesen makan, soalnya perut masih penuh terisi penuh oleh makanan yang dibagikan oleh pramugari cantik di kabin pesawat tadi. Indah rasanya dunia saat itu. Angin berhembus kencang, panas terik matahari memberi kehidupan, dan pemandangan alam yang menyejukan hati benar-benar bikin gua ingin berlama-lama disitu.
Gua dibuat minder oleh pelayan restoran itu. Dia seorang wanita muda dengan tampilan yang begitu lusuh, yang tetap berkeringat walaupun cuaca sejuk, mengenakan baju yang seperti tidak dicuci dan sudah dipakai selama tiga hari berturut-turut, tapi dia menggunakan bahasa inggris dengan lancar saat melayani sekawanan bule yang ada disamping meja gua.
Sungguh malu gua akan diri sendiri. Gua yang bergelar Insinyur (Sarjana Teknik maksudnya) palingan cuma bisa pake kata "yes", "no", sama "i love you" doang. Padahal gua sering nonton film barat, padahal lagunya muse yang "unintended" adalah salah satu lagu wajib saat karaokean, padahal gua yakin kalo gua lebih lama makan bangku sekolahan dibanding wanita itu, padahal gua sempat kursus bahasa inggris, walaupun hanya dalam hitungan bulan dan berhenti karena bokap gua kekurangan dana.
Tapi apa yang gua bisa? Kemampuan bahasa inggris gua jauh dari mengesankan. Jika diibaratkan sebuah perjalanan, kemampuan gua dalam berbahasa inggris hanya cukup untuk ongkos pulang saja. Gua sempat berfikir, rasanya dalam mempelajari bahasa inggris, metoda jadi pelayan restoran di Bali lebih efektif dibanding belajar dengan kurikulum resmi yang dikeluarkan pemerintah. Entah siapa yang salah, gua sebagai pelajar yang terlalu bodoh dalam menyerap ilmu? Atau pemerintah yang terlalu menjejali grammar dalam kurikulumnya sehingga membuat orang yang belajar lewat metoda itu selalu mempertimbangkan grammar-nya salah atau benar saat akan berucap dalam bahasa inggris? Tanyakan saja pada rumput yang baru dipangkas tukang taman.
Dengan cuaca sejuk, kopi panas yang dihidangkan di meja oleh pelayan hanya bertahan beberapa menit saja kepanasannya. Selang berapa menit kopi berubah hangat, beberapa menit setelahnya menjadi dingin. Tapi gua sudah menghabiskan kopi itu sebelum beranjak menjadi dingin, hanya tegukan terakhir yang dirasa dingin oleh lidah gua. Tidak berbeda jauh rasa kopinya dengan kopi yang biasa gua minum di Batam, sama-sama kopi tubruk yang gulanya sedikit saja, sesuai selera gua.
Dua batang rokok sudah habis gua hisap ditemani secangkir kopi bali. Jus jeruk si Dinda pun sudah tinggal ampasnya saja yang tidak bisa disedot karena terjebak diantara es batu. Gua pun memutuskan untuk kembali menemui Pak Wayan dan Pak Ketut yang menunggu di lobi restoran, lalu memintanya untuk segera melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya : Pura Besakih.
Setengah jam waktu perjalanan ditempuh. Rute yang ditempuh cukup terjal, karena kita beranjak dari satu gunung ke gunung lainnya. Letak pura besakih adalah di kaki Gunung Agung. Jalanan turun naik, kelokan patah dan jarak pandang minim tentunya menjadi santapan Pak Ketut sebagai supir waktu itu. Didalam perjalanan diisi dengan penjelasan Pak Wayan tentang asal-usul Pura Besakih yang membuat gua jadi tidak fokus dengan rute yang sedang gua tempuh. Gua lupa ceritanya apa saja, banyak banget. Yang gua inget cuma kalo cewek lagi menstruasi ga boleh masuk ke Pura ini, karena katanya itu tempat suci, dan kalo masuk ketempat itu kita wajib mengenakan kain yang dililitkan seperti sarung jika umat muslim mau sholat.
"Jika sedang menstruasi tapi tetap nekad masuk, maka tanggung sendiri akibatnya", begitu kata Pak Wayan dengan nada ramah, namun kata-katanya sedikit mengancam.
Sampailah kita di Pura Besakih. Selepas turun dari mobil, Pak Wayan dengan sigap membantu gua untuk melilitkan kain di pinggang gua, karena caranya berbeda dengan cara gua saat memakai sarung, sedikit khas, dan entahlah bagaimana menggambarkannya. Yang pasti dengan kain itu, perut gua yang sudah buncit semakin bertambah buncit, dan miriplah sudah perut gua dengan perut badut ancol. Untung wajah tetap gagah, sehingga kebuncitan sedikit tersamarkan.
Puluhan bangunan kuno nan megah dengan atap runcing seolah menusuk langit ada dihadapan gua. Batu, Kayu, Ijuk, dan ornamen-ornamen penghias jadi bahan bangunan Pura disitu. Total ada 86 Pura, itu kata Pak Wayan, gua ga sempat menghitung untuk memastikan, karena gua terlalu sibuk dengan agenda mendadak narsis dengan si Dinda yang ternyata jauh lebih narsis dibanding gua.
Sungguh modern ternyata orang-orang jaman dulu. Dengan ilmu pengetahuan yang minim tapi bisa membuat bangunan seindah, semegah, dan sekokoh ini, yang konon katanya dibutuhkan waktu lebih dari 1000 tahun dalam pembangunannya untuk sampai ke bentuk yang seperti gua lihat sekarang. Dan masih katanya juga, Pura ini tak tersentuh letusan Gunung Agung yang menewaskan lebih dari 1000 orang dan memporak porandakan desa sekitarnya, padahal jarak Pura ini hanya sekitar 1 KM dari puncang Gunung Agung.
Kembali gua dibuat minder akan hal ini. Gua yang seorang Insinyur Teknik Sipil......................
Seseorang : Woyyyy, ST Woooooyyyyy bukan Insinyur!!!!
Gua : Iya iya, ST ST deh, kan biar kerenan dikit pake gelar Insinyur
Seseorang : Udah ST ya ST aja, jangan sok keren!!!!
Gua : Bawel lu! Lagian ngapain sih pemerintah pake ganti nama gelar segala? Kalo ST kan bisa aja dipelesetin jadi Sarjana Tolol.
Seseorang : Pake nyalahin pemerintah lagi! Udah ST ya ST aja, ga usah nyari alasan!!!!
Gua : *Ambil minyak tanah, siram, bakaaaarrrrr*
Oke, gua ulangi dan revisi kalimatnya untuk meredakan suasana demonstrasi menuju rusuh dari entah siapa itu.
Kembali gua dibuat minder akan hal ini. Gua yang seorang SARJANA TEKNIK SIPIL, jangankan untuk membangun Pura yang begitu indah, kokoh, dan megah. Untuk membangun sebuah komplek real esatate yang berisikan rumah 2 lantai saja sudah dibuat pusing minta ampun. Belum lagi bila dapat customer brengsek dengan jabatan yang cukup berpengaruh. Orang macan ini brengseknya lebih dari preman pasar yang suka malakin duit keamanan ke pemilik kios. Orang-orang seperti ini adalah preman berdasi yang bikin kepala gua serasa mau meledak saat melayaninya karena gemas ingin melayangkan bogem mentah ke muka brengseknya namun tertahan undang-undang sialan. Kalo gua boss-nya dan gua dikasih kebebasan untuk menjual produk gua, maka orang-orang seperti ini ga akan gua biarkan beli rumah di proyek gua, karena gua hanya ingin menjual produk gua kepada orang-orang yang berpenghasilan halal dan jumlah penghasilannya sesuai dengan harga produk yang dia beli.
Tapi mereka bisa. Mereka, orang-orang yang berasal dari milenium yang berbeda dengan gua itu ternyata otaknya lebih canggih dibanding gua yang notabene ber-almamater lumayan mentereng, yaitu : Politeknik Negeri Bandung dan Universitas Gajah Mada. Siapa yang salah? kali ini gua ga bisa ngasih pilihan. Ini jelas salah gua pribadi. Almamater gua ga bisa disalahkan, karena sudah banyak bukti orang-orang hebat berasal dari sana. Tapi gua yakin, pada waktunya nanti, gua akan jadi orang hebat dengan cara gua sendiri, amin.
Satu jam muter-muter di Pura Besakih bikin baud-baud di lutut gua sedikit kendor, dan sendal jepit kulit gua yang sebelah kanan jaitannya putus seakan sedang melakukan protes dengan aktifitas turun naik tangga dan berputar di area Pura itu. Bila bisa bicara, mungkin sendal jepit gua akan ngamuk dan mencak-mencak seperti ini : "Heh, ga sadar lu ya? Badan lu tuh segede drum oli, dan seenaknya aja nginjek-nginjek gua? Lu pikir gua ga capek? Umur gua udah setahun lebih, udah bukan waktunya lagi gua lu injek-injek dan diajak turun naik tangga! Beli yang baru sono!"
Dengan kondisi seperti itu, keputusan yang paling bijak adalah : menyudahi perjalanan, kembali ke mobil, duduk manis seperti seorang don juan, dan nikmati perjalanan pulang menuju hotel bintang tiga yang letaknya diluar bayangan gua.
Kembali waktu selama 1,5 jam perjalanan harus kami tempuh untuk sampai ke hotel yang terletak di daerah Sanur. Ditengah perjalanan, tepatnya daerah Ubud, gua ditawari untuk mampir di kedai kopi yang menawarkan kopi luwak. Jenis kopi yang harganya selangit. Di Batam, di sebuah cafe yang terletak di sebuah mall, kopi luwak ditawarkan dengan harga 150rb/cangkir, sedangkan di kedai kopi itu ditawarkan dengan harga 1/3 nya saja : 50rb. Tapi gua belum jadi orang stress yang mengorbankan uang sebanyak itu hanya untuk secangkir kopi, jadi tawaran itu gua tolak. Walaupun sempat juga gua beli kopi di warung kopi khas amerika dengan harga 45rb, itupun terjadi karena gua ga nyangka harganya akan semahal itu, dengan kata lain gua ketipu. Caramel Machiato jenis kopinya, yang setelah gua tau artinya, ternyata Caramel Machiato itu adalah kombinasi kopi pake susu + campuran gula merah yang dilelehkan. Sungguh ternyata sangat tidak sesuai antara bahan yang digunakan untuk membuat kopi itu dengan harga yang harus dibayar. Lagi-lagi gua dijajah amerika.
Sekitar pukul 18.00 WITA kita sampai di hotel bintang tiga yang ternyata letaknya masuk gang itu. Gua turun dari mobil, lalu merogoh dompet dan mengambil beberapa lembar rupiah didalamnya untuk membayar jasa tour kongkalikong yang kita lakukan kepada Pak Wayan. Tampak Pak Ketut yang masih didalam mobil begitu lebar senyumnya pertanda bahagia. Yes, hari ini dapat tambahan, mungkin begitu gumamnya dalam hati. Pak Wayan? Tak beda jauh dengan Pak Ketut, sama-sama tersenyum. Si Dinda? Ya tersenyum juga lah, secara gratisan. Gua? Tersenyum, tapi aga kecut.
Pak Wayan dan Pak Ketut pun berlalu meninggalkan hotel bintang tiga yang tidak sesuai bayangan gua itu sambil berpesan bahwa besok mereka akan menjemput kita pukul 10.00 WITA untuk kembali melanjutkan tour. Lalu gua berjalan menuju kamar dengan cara menggeserkan kaki kanan, sedangkan kaki kiri berjalan seperti biasa. Terlihat seperti orang terkilir cara gua berjalan, tapi jika tidak begitu sendal putus gua bakal ketahuan seisi hotel, jadi biarlah begitu selama cara jalan gua tidak merugikan siapapun.
--sambung menyambung menjadi satu--
No comments:
Post a Comment