Sebuah pulau yang katanya indah (memang indah setelah gua buktiin) dan banyak banget spot wisatanya. Katanya sih diluaran sana lebih terkenal Bali dibanding Indonesia yang notabene adalah empunya Pulau Bali. Tapi gua rasa sekarang tingkat keterkenalan Indonesia dan Pulau Bali sudah berada di level yang sama, walaupun dengan indikator yang berbeda. Pulau bali dengan budaya dan keindahannya, sedangkan Indonesia dengan rusuh dan korupsinya. Semoga Indonesiaku lekas sembuh.
Hari itu pun tiba. Gua dan si Dinda sudah duduk mantap disebuah bangku plat besi tanpa busa dekat tangga turun ke toilet didalam boarding lounge terminal 2F bandara Soekarno - Hatta. Rasa jenuh jelas menemani gua dan si Dinda, karena kita harus menunggu waktu take off yang masih satu jam lagi.
"Apaan, A?" Jawab si Dinda dengan wajah keheranan.
"Bentar lagi kan kita mau naek pesawat, kamu jangan norak ya!" Senyum ledekan menghiasi wajah gua saat mengucapkan kalimat itu.
"Ih, udah pernah tau. Dulu waktu kecil ke Makasar sama Tante Weni."
"Tapi udah lupa kan rasanya?" Aroma ledekan masih kental diwajah gua, tapi si Dinda cuman diem aja menanggapinya. Untuk seorang ledekers (read : tukang ngeledek), bila sedang melancarkan jurus ledekan dan hanya ditanggapi dengan diam, maka saat-saat seperti itu adalah saat-saat tergaring dalam karirnya sebagai ledekers.
"Ini beda loh Dut, pesawatnya gede, kaya yang dipake di film-film hollywood. Kalo mau muntah mendingan dari sekarang aja, daripada malu ntar diatas." Si Dinda tetap diam, jurus gua ga berhasil. Kalaupun ada perubahan, mungkin hanya bibirnya saja yang sedikit lebih maju dibanding sebelumnya.
Bagi yang cuma kenal sekilas sama si Dinda, mungkin tidak akan ngeh dengan penambahan dimensi yang terjadi dibibir si Dinda pada waktu itu, karena memang kebetulan si Dinda diciptakan oleh Allah SWT dengan kontur bibir yang hampir menyerupai landasan skateboard, jadi memang manyunnya sudah alami. Tapi gua kan tau persis dia dari jaman masih orok, jadi perubahan sedikit saja gua hapal.
Waktu boarding sudah tiba. Gua dan si Dinda sudah duduk mantap di seat nomor 67 D & E. Ga lama kemudian pesawat pun take off diiringi permintaan maaf langsung dari sang captain karena pesawat terlambat +/- 15 menit dari jadwal semula. Ini bedanya maskapai yang agak berkelas (kebetulan gua pake Garuda) dibanding maskapai murahan (pelayanannya yang murahan, harga tiket sih sama aja) yang walaupun sudah terlambat 1 1/2 jam yang minta maap cuma pramugari/a nya saja dan setelah itu ga ngasih kompensasi apa-apa. Air mineral pun harus beli di kabin. Ga perlu gua beberin lah yang mana maskapainya, ntar nasib gua bisa kaya tante Prita yang dituntut sama RS Omni.
Suara berwibawa dari seorang pramugara tiba-tiba bergema dan memberitahukan bahwa pesawat sebentar lagi bakalan landing. Dan memang hanya berselang beberapa saat pesawat pun mendarat dengan cukup mulus, lalu setelah itu secara resmi untuk pertama kalinya kaki gua napak di daratan Bali.
Beda waktu satu jam antara Jakarta dan Bali bikin gua harus muter jam tangan KW1 merk police yang gua pake satu jam lebih cepat. Jam tangan ini gua beli dari hasil duit halal, jadinya setelah dipakai berbulan-bulan pun masih tetap awet. Beda sama jam tangan mekanis KW super merk tag heuer yang gua beli dari hasil duit taruhan bola, yang umurnya cuma tahan seminggu, dan walaupun gua sudah ngeluarin duit tambahan dari hasil keringat sebesar 50rb buat service jam itu, tambahan umurnya cuma beberapa hari saja, setelah itu kembali mati total. Dalam hal ini Bang Haji kembali benar bahwa uang judi memang najis dan tiada berkah.
Waktu itu sekitar pukul 12.00 WITA. Dipintu gerbang kedatangan bandara Ngurah Rai, gua dan si Dinda sudah mulai lirik kiri dan kanan nyari penjemput yang katanya bernama Pak Wayan. Dan katanya juga, Pak Wayan sudah dilengkapi dengan papan nama yang bertuliskan nama gua.
Sejenak gua hentikan langkah, dan pandangan mulai mengitari suasana sekitar yang ramai oleh para penjemput masing-masing pelancong, entah itu saudara, kerabat, atau seorang tour guide seperti yang sedang gua cari.
Arah jam 2 dari tempat gua berdiri, mata gua terhenti melihat sesosok lelaki dewasa berumur mendekati zona akhir kepala tiga dengan rambut yang mulai rontok mengenakan celana katun hitam dan kemeja lengan panjang berwarna biru laut yang dilipat sesikut. Matanya sibuk memperhatikan setiap orang yang keluar dari gerbang kedatangan, termasuk gua.
Kedua tangannya memegang selembar kertas putih polos ukuran A4 yang ia bentangkan semaksimal lebar kertas itu.
"RICKI INDRIANSYAH BAGJANA from BANDUNG".
Itu isi tulisan di kertasnya. Gua baca dengan jelas dari jarak sekitar 5 meter. Gua yakin yang di maksud tulisan itu adalah gua. Karena sampai saat ini gua masih yakin kalo nama gua ga pasaran-pasaran banget.
Kalo "RICKI" emang pasaran. "INDRIANSYAH" juga banyak yang pake. Tapi kalo "BAGJANA" rasanya hanya bokap, kakak, adik, ponakan, calon anak gua (nanti kalo udah nikah), dan beberapa gelintir orang yang pake nama itu. Kalo ga percaya silahkan buktikan lewat mbah gugel, ketik keyword "BAGJANA" lalu enter. Yang keluar pasti nama-nama saudara gua, beberapa nama orang dan nama hotel dari Bangladesh, dan beberapa juga dari Indonesia. Tapi daripada susah-susah ngebuktiin, lebih baik kalian percaya saja. Gua jamin kalo percaya sama gua gak bakalan bikin kalian jadi termasuk kategori orang musyrik.
Gua hampiri pria itu dan berkata "Itu saya, Pak." sambil menunjuk ke arah kertas yang sedari tadi dia pegang.
"Pak Ricki?"
"Iya, saya."
"Ikutin saya, Pak. Mobilnya di tempat parkir." Ajak dia.
Gua dan si Dinda berjalan mengikuti langkah kaki sang tour guide menerobos kerumunan orang-orang yang memadati hampir seluruh area kedatangan bandara. Suasana ramai mendekati keadaan crowded. Wajar saja, karena +/- 400 orang baru saja mendarat dan keluar dari pesawat secara bersamaan melewati pintu gerbang kedatangan yang hanya berukuran sekitar 6 meter saja. Dan memang suasana teratur sedikit jarang kita temui di republik ini.
Sampai di tempat parkir, sang tour guide menunjukan sebuah mobil yang akan mengantar-antar kita kesana kemari selama liburan di pulau ini yang berdurasi 3 hari 2 malam. Toyota Avanza warna silver jenis mobilnya.
Disamping mobil, tampak seorang pria setengah baya dengan kretek di bibirnya yang tak berhenti mengeluarkan asap. Badannya masih tegap. Raut wajahnya tegas. Dengan umur yang gua tebak hampir menuju kepala 5, pria itu termasuk kategori orang sehat. Kalaupun ada yang tidak bisa ia cegah dalam pertambahan usianya adalah kerutan wajah, dan kerontokan rambut yang mau tak mau harus membuat dia menggunakan model rambut plontos alias tanpa rambut.
Pria plontos itu dengan sigap mematikan kreteknya dan bergegas masuk kedalam mobil saat melihat kita datang mendekat, sejurus kemudian dia duduk di jok supir. Pasti pria plontos itu supirnya, kalo bukan ngapain juga dia duduk disitu, gumam gua dalam hati. Sang tour guide dengan ramah membukakan pintu belakang mobil dan mempersilahkan gua dan si Dinda untuk masuk.
"Selamat datang di Bali. Gimana perjalanannya tadi?" Sapa sang tour guide yang duduk di jok depan sebelah kiri.
"Alhamdulillah lancar, landingnya juga mulus."
Lalu percakapan berlanjut ke sebuah perkenalan dan basa-basi lainnya dari dua orang ramah yang ada di jok depan. Sang tour guide bernama Pak Wayan, dan pria plontos bermuka sangar namun ramah itu dikenalkan dengan nama Pak Ketut.
Gua sedikit tertarik dengan nama orang bali yang menurut gua itu-itu saja. Kalo ga Made, Wayan, Putu, Gede, Ketut, ya Nyoman. Gua sempat berfikir orang-orang disana tidak kreatif. Ngasih nama anaknya kok seragam. Tapi setelah gua tanyakan ke Pak Wayan, ternyata nama-nama tersebut ada artinya. Begini jelasnya :
Pada dasarnya nama orang Bali itu terbagi atas empat kategori :
1. Anak pertama dikasih nama Putu, Gede, Wayan.
2. Anak kedua dikasih nama Kadek, Nengah, Made.
3. Anak ketiga dikasih nama Nyoman, Komang, Koming (ga ada Komeng).
4. Anak Keempat dikasih nama Ketut ga pake 'n'.
Berati Pak Wayan itu anak sulung, dan Pak Ketut anak bungsu. Bila ternyata karena keluarga itu hoby banget bikin anak dan akhirnya punya anak kelima, keenam, dst. Maka anak kelima akan kembali ke kategori yang pertama yaitu : Putu / Gede / Wayan, dst. Tapi masih kata Pak Wayan, nama-nama itu cuma nama sebutan urutan anak tersebut dalam keluarga. Makanya suka ada nama belakangnya, mis: "I Wayan (bla bla bla)" atau "Ni Nyoman (bla bla bla)". Kalo "I" itu tandanya cowok, sedangkan "Ni" berarti cewek. Untuk orang-orang "setengah mateng" silahkan pilih sesuai selera.
"Oh, gitu Pak. Tapi ngomong-ngomong ada ga nama orang Bali 'I Gede Banget Anunya', Pak?"
Pak Wayan hanya tertawa seperlunya dan tak menggubris pertanyaan konyol dari gua. Malah dia kembali menjelaskan mengenai "KB" nya orang Bali yang katanya dengan menyiapkan empat kategori nama itu berarti sudah tidak peduli dengan anjuran pemerintah.
Perjalanan terus berlanjut sambil terus dihiasi penjelasan Pak Wayan mengenai segala sesuatu tentang Bali dan segala sesuatu tentang tour yang akan kita lakukan. Perjalanan lancar, ga ada macet, jalanan mulus, dan sangat menyenangkan mendengar penjelasan tentang Bali dari Pak Wayan yang menjelaskan secara lancar dan mudah dimengerti. Kalo begini jadi kepengen tinggal, nyari kerja, dan nyari gadis Bali.
Tujuan pertama kita adalah ke hotel di daerah Sanur. Hotel Mentari Sanur namanya. Sebuah hotel bintang tiga yang dalam bayangan gua sih sebuah hotel mewah yang ada dipinggir jalan utama. Tapi ternyata, di Bali, kelas hotel bintang tiga tuh letaknya masuk gang yang lebarnya hanya muat satu buah mobil. Yang di pinggir jalan utama mungkin kelasnya bintang tujuh keatas. Beda sama Bandung, yang hotel melatinya saja ada dipinggir jalan gede. Mungkin saking banyaknya hotel di Bali, jadinya untuk kelas hotel 500rb-an posisinya harus aga masuk ke gang.
Gua baru ngeh akan hal ini setelah kita sampai di daerah Sanur, dan secara tiba-tiba mobil bereaksi akan putaran stir dari Pak Ketut, lalu bebeloklah mobil kearah kiri dan masuk ke sebuah gang, sebelum akhirnya sampai ke hotel yang dimaksud. Memang fasilitasnya cukup jempolan, dan layak disebut bintang tiga, hanya posisinya saja yang sedikit meleset dari bayangan gua.
-bersambung ya, kawan-
keren sob
ReplyDeleteseru maz,,liburannya,
ReplyDelete