Sunday, January 23, 2011

CURHAT

Apa kabar, kawan?

Gua rasa kalian baik-baik saja. Atau minimal kabar kalian sedikit lebih baik dari gua yang sekarang sedang memendam masalah yang tak terlampiaskan, jadi bersyukurlah.

Bila ternyata kalian merasa senasib atau beda-beda tipis doang dengan apa yang sedang gua rasakan, maka mari kita sama-sama bersyukur dan tetap menampilkan senyuman, karena asal kalian tahu, masalah-masalah yang gua alami sekarang ternyata gagal untuk membuat gua kehilangan senyuman. Walaupun memang terkadang senyuman gua sedikit kecut karena dipaksakan.

Atau bila kalian merasa tidak lebih baik dibanding apa yang sedang gua rasakan sekarang, maka tetaplah bersyukur, karena kalian bukan korban banjir lahar dingin yang kehilangan rumah karena diterjang material vulkanik gunung merapi.

Kalaupun ternyata kalian adalah salah satu korban banjir lahar dingin merapi........ahh, gua rasa ga mungkin korban banjir lahar merapi ada waktu baca blog ini. Jadi level terparah cuma sampe yang merasa "tidak lebih baik" di banding gua.

By the way, dude, udah cukup lama gua ga ngoceh di blog ini, dan sekalinya ngoceh, ocehan gua bertema curhatan. Sungguh lebay sekali kelakuan gua. Ga laki banget.

Tapi itu adalah realita yang pengen gua sharing ke kalian semua, kawan. Coba simak beberapa pertanyaan gua dibawah ini:
  1. Gimana reaksi kalian saat setiap hari selama hampir dua bulan, kalian harus selalu berhadapan dengan orang BRENGSEK yang gua rasa kupingnya ketinggalan di rahim ibunya?
  2. Gimana reaksi kalian saat setiap hari selama hampir dua bulan, hampir ga ada satu hari pun yang ga diisi dengan komplen dari orang BRENGSEK yang gua rasa ga ngerti bahasa manusia, dan di hari-hari libur, malam hari, pagi buta, serta hari disaat gua cuti pun komplennya ga berhenti?
  3. Gimana reaksi kalian saat setiap hari selama hampir dua bulan, kalian berusaha maksimal untuk menangani manusia BRENGSEK yang uratnya kurang tiga bagian (urat malu, urat sopan, sama urat pinter) termasuk di hari libur, malam-malam, pagi buta, dan saat gua cuti tapi masih dianggap ga ada action dan dianggap ga professional?
  4. Gimana reaksi kalian saat setiap hari selama hampir dua bulan, kalian hanya bisa memendam ketidaknyamanan berinteraksi dengan manusia BRENGSEK yang otaknya beda tipis doang sama otak kambing, karena si BRENGSEK itu adalah pelanggan kalian?
Suatu hari di hari minggu sore, si BRENGSEK komplen langsung ke boss gua lewat sms yang super panjang. Sebelumnya pun kejadian komplen langsung ke boss gua ini sering terjadi, tapi gua pilih sms 'terparah' dari si BRENGSEK. Lalu boss gua forward sms nya itu ke nomor gua, begini isinya :

"Sore Pak Jono (Bukan nama sebenarnya), tolong Bapak ke rumah saya besok. Masih banyak keramik kopong di lantai 1 dan lantai 2. Disamping itu banyak keramik tergores dan sisa cat kusen nempel di keramik. Masalah bocor pipa kamar mandi juga belom selesai. Meteran air juga belum terpasang sampai dengan sekarang. Finishing cat juga masih berantakan. Banyak problem, jadi saya belum bisa pindah kerumah ini. Saya minta diperbaiki / diganti segera. Masih ada ngga yang bertanggung jawab di perusahaan Bapak untuk masalah ini? Saya minta dengan hormat Pak Jono serius menangani masalah ini ASAP. Thanks atas perhatian dan kerjasamanya...'si BRENGSEK'.....".

Sepanjang itulah si BRENGSEK menggunakan jasa Short Message Service (SMS) untuk mengkomplen boss gua langsung yang akhirnya nyampe juga ke gua setelah di forward sms nya. Geram banget dengan kondisi itu, pengennya gua telfon si BRENGSEK dan ngajak dia berantem secara lelaki. Tapi tentunya otak gua masih jalan dan cara-cara premanisme seperti itu hanya cocok dilakukan bila si BRENGSEK 'jual' duluan yang akan dengan senang hati gua 'beli'.

Merespon sms itu, gua pun kirim sebuah sms yang tak kalah panjang ke boss gua, begini isinya :

"Saya ga tau orang itu maunya seperti apa. Kemarin sudah checklist kondisi rumah, dan komplenannya adalah hal-hal kecil yang biasanya untuk customer lain itu bukan hal prinsip, saya bisa tunjukan hasil checklist-nya, hanya saja cara dia komplen seakan-akan rumahnya sudah reyot dan mau ambruk besok. Asal Bapak tahu, pak. Tukang-tukang yang kerja di rumah dia kalo ga saya tahan sudah mukulin dia. Kurang ajarnya dia lagi, ke Pak Daniel (Pak Daniel adalah supervisor gua dan bukan nama sebenarnya) pun bilang (maaf) pantek. Entah harus dengan cara apa nangani dia. Saya kena marah customer lain terkait kondisi rumahnya bisa saya terima, karena ada perbedaan mendasar antara marah dan kurang ajar, sedangkan dia termasuk kategori kurang ajar. Dengan cara komplen kurang ajar seperti itu, saya rasa tinggal tunggu waktu saja kapan saya hilang kesabaran".

Mendapat sms super panjang bernada curhat dari gua yang sedang geram ini, boss gua hanya menjawab singkat, begini isinya :

"Ya udah, besok kita lihat sama-sama aja. Ngga usah dimasukin hati. Namanya orang itu macam-macam sifatnya. Hitung-hitung pengalaman ngadepin berbagai karakter orang".

Hanya itu yang boss gua utarakan, sebuah sms yang kembali ke fitrahnya sebagai sms, yaitu sebuah pesan singkat. Tidak seperti sms si BRENGSEK dan juga sms gua yang saat ngetiknya pun membutuhkan waktu lebih dari lima menit.

Sebuah pesan singkat yang gua rasa bermaksud menenangkan hati gua yang sedang emosi tak terkendali.

Ingin rasanya gua meledak, dan menumpahkan emosi ini ke si BRENGSEK, tapi ga bisa. Dia adalah customer / pelanggan / pembeli / konsumen, dimana sebuah istilah "konsumen adalah raja" sudah begitu melekat disetiap orang di dunia ini.

Halaaahhhh, istilah itu benar-benar ngebatasin apa yang bisa gua lakukan ke si BRENGSEK. Jikapun konsumen harus diperlakukan sebagai seorang raja, gua rasa jika seorang raja berlaku tak semestinya, maka kudeta pun layak dilakukan.

Tapi kembali otak gua yang jauh lebih cemerlang dibanding si BRENGSEK itu melarang gua untuk melakukan kudeta. Karena sampai dengan sekarang, walaupun si BRENGSEK melakukan segalanya dengan cara kurang ajar, hal kurang ajar-nya dia itu secara hukum masih belum bisa dikategorikan bersalah. Gua rasa hukum di republik ini harus direvisi agar hal-hal lebay dan kurang ajar seperti yang si BRENGSEK lakukan bisa dikategorikan melanggar hukum, dan saat gua melakukan kudeta, maka action gua dikategorikan sebagai pembelaan diri.

**menulis sambil ngejedot-jedotin kepala ke tembok, tapi tetap tersenyum**

No comments:

Post a Comment