1. Tawaran kerjaan baru
2. Cerita tentang seorang ST (Sarjana Tragis)
3. Malasnya membayar pajak
Oke, kita mulai dari yang pertama.
Seorang teman nawarin gua kerjaan di sebuah developer yang lagi ngembangin resort di kawasan wisata batam. Pekerjaan yg cukup menarik dan bakal bikin nambah banyak pengalaman, penghasilan tetap yang meningkat sebesar +/- 50% dari yang gua dapet sekarang, dan sebuah kejelasan status pekerjaan lewat sebuah kontrak kerja yang berdurasi cukup panjang (3 tahun).
Kontrak kerja adalah hal yang gak gua dapet dari perusahaan tempat gua kerja sekarang. Gak ada kejelasan, kapan aja gua bisa ditendang. Padahal perusahaan gua yg skr bukan perusahaan abal-abal. Perusahaan ini punya sekitar 30 proyek di Pulau Batam saja, belum lagi dikota lainnya, punya karyawan +/- 400 orang, dan sudah eksis sejak 22 tahun yang lalu.
Lalu apa yang gua lakukan dengan tawaran itu? GUA TOLAK. Alasannya cuma satu, yaitu : KENYAMANAN BEKERJA. Kenyamanan gak bisa dibeli dengan uang, dan kebetulan posisi gua sekarang sudah berada persis dibawah orang yang tepat (atasan langsung gua). Kalo masalahnya hanya ketidakjelasan status pekerjaan, gua cuma bisa ngomong bahwa "sebuah ikatan batin lebih berarti dibanding ikatan dalam sehelai kertas kontrak" (kata2 ini nyontek dari omongan temen gua ^__^)
Yang kedua.
Yang kedua.
Ini adalah kisah perjalanan "pendidikan akademis" dari seorang yang gua kenal baik dan gak perlu gua sebut namanya. Dia adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Kita semua tau bahwa yang namanya PNS ada golongan-golongannya, dan setau gua golongan-golongan itu ditentukan oleh 2 hal, yaitu : jenjang pendidikan dan masa kerja.
Mungkin dengan niat untuk mempercepat masa naik golongan dan juga jabatan, tentunya. Orang ini jadi punya riwayat pendidikan akademis yang aneh. Seaneh apa? Mari kita lihat.
1st, orang ini lulus S1 dengan Jurusan Manajemen dari sebuah STIE di Jakarta, pada April 2006. Dimana di kampus itu dia tercatat sebagai mahasiswa pindahan dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Sialan, almamater gua dibawa-bawa, padahal gua tau persis dan berani di sumpah pocong kalo orang itu ga pernah sekalipun ngerasain duduk di bangku kuliah UGM.
2nd, orang ini lulus dari Program Magister Manajemen sebuah STIE di Jakarta (STIE yang berbeda dengan tempat dia S1) pada desember 2007.
3rd, di poin 3 mulai terjadi kejanggalan, yaitu : orang ini diterima sebagai mahasiswa MM di STIE tersebut pada tahun 2005. Artinya dia masuk program S2 sebelum S1nya lulus? Emang bisa ya kaya gitu?
4th, silahkan simpulkan sendiri bagaimana cara orang ini mendapatkan gelar.
Dari kasus itu ada 2 hal yang jadi konsen gua, yaitu :
1. pendidikan di republik ini bener-bener kacau dan bakalan susah untuk bersaing dengan dunia luar bila kasus-kasus penjualan gelar masih terjadi. Tolong deh buat Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang ada di DIKTI, kerahin Pol PP buat ngegusur kampus-kampus model begituan. Kasian orang-orang yang sudah susah payah nempuh cara normal buat dapetin gelar. Miris gua ngeliat dan ngedengernya. Orang-orang macam ini kalopun dapet ijazah cuman pantes dapet gelar ST (Sarjana Tragis).
2. kebanyakan sarjana2 tragis ini bekerja di institusi pemerintah yang memang sebuah kinerja dari pegawainya bukan hal utama dalam sistem penilaian untuk kenaikan pangkat/golongan/jabatan. Jadi yah wajar aja kalo tingkat korupsinya edan-edanan. Secara, orang pinter yang makan bangku sekolahan aja masih pada korupsi, apalagi sarjana-sarjana tragis yang sudah terbukti menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Sebuah kisah yang menurut gua TRAGIS, MIRIS DAN akhirnya gua APATIS karena emang gak ada yang bisa gua lakuin buat ngerubah semua itu, kecuali mengungkapkan ketidak setujuan gua lewat tulisan alakadarnya ini yang gua rasa ga akan sampai ke telinga para pengambil kebijakan. Kalopu ternyata sampai, rasanya ga akan digubris juga.
Ini adalah hal yang ketiga.
1st, orang ini lulus S1 dengan Jurusan Manajemen dari sebuah STIE di Jakarta, pada April 2006. Dimana di kampus itu dia tercatat sebagai mahasiswa pindahan dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Sialan, almamater gua dibawa-bawa, padahal gua tau persis dan berani di sumpah pocong kalo orang itu ga pernah sekalipun ngerasain duduk di bangku kuliah UGM.
2nd, orang ini lulus dari Program Magister Manajemen sebuah STIE di Jakarta (STIE yang berbeda dengan tempat dia S1) pada desember 2007.
3rd, di poin 3 mulai terjadi kejanggalan, yaitu : orang ini diterima sebagai mahasiswa MM di STIE tersebut pada tahun 2005. Artinya dia masuk program S2 sebelum S1nya lulus? Emang bisa ya kaya gitu?
4th, silahkan simpulkan sendiri bagaimana cara orang ini mendapatkan gelar.
Dari kasus itu ada 2 hal yang jadi konsen gua, yaitu :
1. pendidikan di republik ini bener-bener kacau dan bakalan susah untuk bersaing dengan dunia luar bila kasus-kasus penjualan gelar masih terjadi. Tolong deh buat Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang ada di DIKTI, kerahin Pol PP buat ngegusur kampus-kampus model begituan. Kasian orang-orang yang sudah susah payah nempuh cara normal buat dapetin gelar. Miris gua ngeliat dan ngedengernya. Orang-orang macam ini kalopun dapet ijazah cuman pantes dapet gelar ST (Sarjana Tragis).
2. kebanyakan sarjana2 tragis ini bekerja di institusi pemerintah yang memang sebuah kinerja dari pegawainya bukan hal utama dalam sistem penilaian untuk kenaikan pangkat/golongan/jabatan. Jadi yah wajar aja kalo tingkat korupsinya edan-edanan. Secara, orang pinter yang makan bangku sekolahan aja masih pada korupsi, apalagi sarjana-sarjana tragis yang sudah terbukti menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Sebuah kisah yang menurut gua TRAGIS, MIRIS DAN akhirnya gua APATIS karena emang gak ada yang bisa gua lakuin buat ngerubah semua itu, kecuali mengungkapkan ketidak setujuan gua lewat tulisan alakadarnya ini yang gua rasa ga akan sampai ke telinga para pengambil kebijakan. Kalopu ternyata sampai, rasanya ga akan digubris juga.
Ini adalah hal yang ketiga.
Masalah pajak. Hwaaaaaaaa, males gua ngomongin ini. Kasus terbaru tentang si gayus kurang ajar itu bikin gua males bayar pajak. kalo pada kompak boykot gua ikutan dahhh. Apalagi saat gua liat SPT gua yg udah di isi perusahaan sebuah kejanggalan terjadi. Penghasilan gua di down grade sekitar -10 jt dari yang seharusnya.
Kalo gak salah, pajak perorangan adalah 5% dari penghasilan per tahun. Sekarang mari kita lakukan hitung-hitungan secara matematis.
diketahui:
jumlah karyawan = 400 orang
down grade penghasilan per karyawan = Rp 10.000.000
ditanyakan:
berapakah "kerugian" negara?
dijawab:
nilai uang yang tidak didaftarkan = Rp 10.000.000 x 400 orang = Rp 4.000.000.000,-
jumlah pajak yang tidak disetor = Rp 4.000.000.000 x 5% = Rp 200.000.000,-
jadi jumlah "kerugian" negara = jumlah pajak yang tidak disetor = Rp 200.000.000,-
Waaaawwwww, 200jt mok. Angka segitu kalo digunakan untuk membuat rumah sederhana bisa bikin 10 rumah, dan bisa ngurangin tuna wisma di negara ini sebanyak 10 keluarga ( +/- 40 orang).
Memang bangsa ini bangsa yang penuh dengan ketragisan disana-sini. Kalo kata Bang Haji "sungguh terlalu". Gua gak yakin klo down grade penghasilan itu hanya peran dari perusahaan gua semata. Setelah melihat kasus si gayus kurang ajar, tingkat ke-su'udzon-an gua terhadap instansi pajak jadi naik ke level stadium 4. Gua jadi su'udzon bahwa ada juga orang pajak yang main mata disitu. Makanya kata-kata kerugian di atas gua kasih tanda kutip.
Tapi ya sekali lagi gua gak bisa membuktikan dan gak bisa melakukan apapun, dan hanya bisa mengucap "TRAGIS"
No comments:
Post a Comment