Rencana buat nongkrongin fenomena sunrise di pantai Sanur gagal total, karena ternyata empat buah bola mata yang ada dikamar nomor 02 di hotel bintang tiga yang lokasinya tidak sesuai bayangan gua itu, baru terbuka setelah ayam jago kehabisan nafas dan tidak lagi berkokok.
Gua kesiangan, si Dinda juga kesiangan. Disamping karena kecapean sehabis tour kongkalikong kemarin, hal itu juga terjadi karena mata dan badan kita terlalu dibuai kesejukan dari sebuah benda bernama Air Conditioner. Benda yang tidak ada di rumah si papah karena Bandung (read : Cimahi) sudah dingin, dan juga tidak ada di rumah kontrakan gua di Batam karena gua rasa kipas angin dengan jarak satu langkah dari badan sudah bikin gua sedikit adem, lagian benda itu sangat aktif merusak lapisan ozon. Tapi kalo ada yang mau ngasih benda itu pasti gua terima dengan tangan terbuka. Apalagi kalo tagihan rekening listrik yang melonjak karena adanya benda itu ikut dibayarin juga, maka semakin terbukalah tangan gua. Jika ada orang sebaik itu, bakal gua jadiin orang tua angkat.
Pukul 07.00 WITA adalah waktu yang ditunjukan oleh jam tangan police KW1 yang gua simpan di meja samping kasur dan gua lihat saat mata gua sudah terbuka sempurna. Matahari sudah tinggi dan sinarnya tanpa permisi langsung masuk lewat celah-celah jendela kamar yang masih tertutup gorden warna hijau daun. Gua yakin diluar sana panas cukup menyengat, dan memang begitu nyatanya. Meski yang nongol masih termasuk kategori sinar matahari pagi yang katanya sehat, gua rasa saat itu bukan waktu ideal untuk melakukan aktifitas jalan-jalan ke pantai. Apalagi dalam kondisi baru bangun tidur dan belum sempat melakukan apapun.
Tapi itu juga berarti gua masih punya waktu selama 3 jam untuk melakukan aktifitas bebas sebelum akhirnya dijemput Pak Wayan dan Pak Ketut untuk kembali melakukan tour keliling Bali. Apalagi pantai sanur tidak masuk kedalam paket tour yang akan kita lakukan. Dengan kondisi itu gua memutuskan untuk tetap pergi ke pantai dengan dua pertimbangan matang : masih ada waktu kosong, dan daripada duit sewa sepeda sebesar 50rb /12 jam yang sudah gua bayarkan tadi malam di lobi hotel hangus ditelan bumi.
Untuk mengatur sisa waktu yang hanya 3 jam itu, gua sudah menyiapkan dua buah rencana brilian yang gua ciptakan secara jenius dan sangat mendadak tanpa bantuan siapapun, yaitu :
1. Plan A : 1 jam bersepeda, 1 jam mandi dan bersolek, 1 jam sarapan dan ngopi.
2. Plan B : Memaksakan Plan A untuk tetap berjalan walau nyawa taruhannya.
Sepedanya berwarna pink, bentuk batangnya seperti perosotan anak TK, stang nya berbentuk lambang ohm terbalik dilengkapi sebuah kunci stang, joknya ada 2 buah, dan sebuah keranjang seukuran tas ibu-ibu melekat dengan kokoh dibagian depan stang. Jenis sepeda yang biasa dipakai para PRT saat disuruh majikannya belanja ke pasar. Sepeda itulah yang sudah gua sewa seharga 50rb / 12 jam dan hanya akan gua pake selama satu jam saja karena waktu yang tersisa cuma segitu. Ah sudahlah, ga usah dibahas jumlah kerugian gua, kalian pasti bisa ngitung sendiri. Tapi oke lah gua bahas sedikit, gua rugi 45rb, atau setara harga segelas caramel machiato diwarung kopi amerika, atau jika ditambah seribu akan setara 4 bungkus rokok djarum super yang 16 batang, atau setara secangkir kopi luwak Bali tanpa gula bila diasumsikan harga gula = 5rb rupiah, atau setara 2 tiket nonton nomat + 2 popcorn ukuran small + duit kembalian 5rb, atau setara 2 buah paket nasi di McD tanpa pajak, atau setara 90x parkir motor di Batam, atau setara nilai zakat fitrah sebanyak 2 orang, atau setara harga potong rambut + creambath di salon.
Sebagai seorang kakak yang budiman, baik hati, dan juga gagah, tentu gua yang duduk di jok depan dan mengayuh sepeda. Sedangkan si Dinda cukup duduk manis di jok belakang tanpa mengeluarkan energi.
Baru keluar kamar saja keringat sudah mengucur akibat sengatan matahari yang semakin panas akibat pemanasan global. Beberapa detik kemudian kucurannya semakin deras karena kayuhan sepeda yang ternyata berat. Lalu semakin berat saja setelah gua sadar di jok belakang ada si Dinda yang beratnya lebih dari bobot dua karung beras bagian pegawai negeri. Tapi sebagai seorang kakak yang budiman, baik hati, dan juga gagah, tentunya gua tidak menampakan keluhan atas penderitaan mengayuh sepeda itu pada si Dinda. Paling gua hanya berucap dalam hati, duh Dut, diet dikit napa! Berat banget sih lu! Di Jawa kamu makan onderdil ya?
Lalu sampailah kita di pantai Sanur. Selain pantai yang bersih, pasir yang hitam, dan tanggulan batu yang menjorok ke pantai dan menyerupai jetty, "kosong" adalah kata yang cocok untuk menggambarkan situasi pagi hari di pantai itu. Cuma ada perahu-perahu nelayan dan perahu penumpang tradisional yang sedang tambat, beberapa gelintir penduduk sekitar yang berteduh di kios-kios, beberapa ekor anjing kampung, dan sekawanan bule miskin yang tampaknya sedang bersiap-siap untuk pergi ke pulau Nusa Lembongan menggunakan perahu tradisional (kalo bule kaya raya, perginya naek cruise).
Memang ga ada alasan tepat untuk datang ke pantai jam segitu, kecuali alasan kesiangan. Jadinya cuma orang-orang yang tidurnya kaya kebo doang yang hadir waktu itu. Termasuk gua, tapi gua kebo yang gagah, sedangkan yang lain adalah kebo secara harfiah.
Ga betah nongkrong dipantai jam segitu. Panasnya astagfirullah. Apalagi saat kita masih mencoba memaksakan diri untuk melakukan aktifitas mendadak narsis ditengah cuaca sepanas kuah cingcang padang, tiba-tiba dua ekor anjing kampung (mungkin mereka suami istri) mendekat dan melakukan teror ke si Dinda dengan cara duduk tepat disamping si Dinda yang sedang pose nyengir untuk memperlihatkan gigi enam juta-an yang gua hadiahkan setelah dia lulus SPMB setahun yang lalu. Sejak si Dinda pake behel, foto si Dinda yang ga nyengir bisa gua hitung jari. Foto jenis Itupun hanya terdiri dari dua kategori, yaitu : foto dengan pose manyun yang menyamarkan ketebalan bibirnya, dan jenis foto candid camera. Silahkan lihat sendiri contoh posenya dibawah ini.
Melihat si Dinda begitu tertekan akan kehadiran anjing kampung itu, gua sebagai seorang kakak yang budiman, baik hati, dan juga gagah langsung bergerak cepat untuk melindungi si Dinda. Gua tarik lengan si Dinda, gua tuntun ke area bebas anjing, muka dia pias banget, bila ditelaah muka gua pun ga kalah pias, lalu gua berkata "Pulang yu, Dut!"
Untuk masalah hewan yang satu itu gua angkat tangan dah. Trauma masa kecil dikejar anjing bernama "Blacky" di pematang sawah hingga gua jatuh terperosok kedalam sawah, lalu kaki kanan gua terkilir, dan sendal jepit yang juga sebelah kanan hilang ditelan lumpur, masih terbayang jelas dibenak gua. Sampai saat ini gua masih segan sama hewan jenis itu. Hanya segan, bukan takut, cam kan itu, kawan!
Masalah keseganan terhadap anjing ga gua ceritain sama si Dinda. Didepan dia sih gua cool aja, biar wibawa tetap terjaga. Si Dinda itu mulutnya 'ember'. Sedikit saja dia tahu ada celah dalam diri kakaknya, maka ledekannya takan berhenti sampai dengan uang tutup mulut menyumpal mulutnya.
Jadi, hal ini rahasia, kawan. Cuma kita aja yang tahu. Bila masalah keseganan gua terhadap anjing ini sampai ke telinga si Dinda, berarti ada salah satu dari kalian yang membocorkan. Dan percayalah,kawan, bila ada diantara kalian ada yang membocorkan rahasia ini, maka hukum karma sudah menunggu. Siapkan fisik kalian, karena dalam waktu dekat kalian akan dikejar anjing kampung hingga terjatuh, berlumur lumpur, terkilir, dan hilang sendal. Saat itu terjadi, gua cuma bisa berkata : RASAKAAAANNNNN!!!!
Sepeda warna merah muda itu kembali gua kayuh dengan tujuan kembali ke hotel. Dengan kondisi tanjakan jalan yang kemiringannya sekitar 5-10%, kali ini trek-nya terasa lebih menantang. Keringat semakin deras saja mengucur lewat semua pori-pori di badan gua yang semakin membesar. Tapi bukan Iky namanya bila harus menyerah dengan keadaan yang cuma seperti itu. Begini-begini, waktu Kuliah dulu gua punya predikat juara badminton saat ada kejuaraan antar angkatan. Jadi kalo tanjakan segini doang sih cetek.
Berat sekali kayuhan sepeda ini. Untuk memberikan efek dorongan tambahan dari bobot tubuh, sepedanya gua kayuh sambil berdiri. Tapi masih juga berat dan melelahkan, efeknya hanya sedikit. Padahal hanya tanjakan landai yang gua tempuh. Lalu gua tersadar akan penyebab semua itu. Di jok belakang ada si Dinda yang beratnya lebih dari bobot dua karung beras bagian pegawai negeri. Sejak itu, gua keluarkan nafas gengsi yang membuat energi gua sedikit bertambah seraya berkata dalam hati, duh Dut, ampun dah kalo begini. Besok-besok kita naek becak aja ya!
Jalan-jalan kesiangan di pantai berlangsung lebih cepat dari rencana, total aktifitas cuma sekitar setengah jam aja. Itu sudah termasuk aktifitas genjot sepeda bolak-balik, foto-foto, dan tawar menawar harga sendal di warung kelontong dekat pantai yang akhirnya dicapai kesepakatan harga di angka Rp 25.000,-.
Seharusnya, setelah sampai hotel, kegiatan selanjutnya adalah mandi dan bersolek. Namun, berhubung di restoran hotel tampak ada dua cewek bule yang satu pirang dan satunya lagi berambut merah sedang duduk menanti pesanan, maka niat mandi ditangguhkan. Mereka hanya mengenakan bikini two pieces dan kain pantai sebagai penutup bagian pinggang kebawah. Cara berpakaian yang tidak lazim digunakan saat mau breakfast.
Gua rasa sayang banget bila momen itu terlepas begitu saja. Kapan lagi gua ke Bali? Yang beginian adanya di Bali doang. Sarapan sambil ngeliat bule pake bikini di restoran adalah hal langka yang bila terjadi di Bandung atau di Batam, maka dapat dipastikan bule yang bersangkutan adalah bule stress yang ga punya ongkos buat balik kampung.
Bulenya udah pergi, makanan udah habis, rokok tinggal bungkusnya doang, dan kopi sisa gelasnya saja. Ga ada alasan lagi buat nunda-nunda mandi. Eh ada deng, suruh si Dinda mandi duluan, abis itu baru deh giliran gua, kan kamar mandinya cuma satu.
^__^
--bersambung lagi--



No comments:
Post a Comment