Buat rumpiwan dan rumpiwati yang demennya nonton acara gosip di TV, pasti pernah dengar kabar tentang Catherine Wilson dan Andy Soraya yang berantem di acara peresmian sebuah warung kopi milik Oom Tommy Soeharto di Bali. Jangan salah sangka dulu ya, gua tau gosipnya dari si Dinda. Gua sih ga sempet nonton begituan, minimal berita politik lah yang gua tonton. Hmm, okelah sama acara kuis tengah malem di TPI deh, abis presenternya "gede-gede", tapi itu juga cuma buat ngisi waktu kosong saat jeda istirahat nonton bola kok.
Nah, TKP berantemnya kedua artis berkategori semlohai itu ada di Dreamland ini, kawan, dan sekarang gua berkesempatan buat ngeliat warung kopi itu dari jauh. Kenapa dari jauh? Simple aja jawabannya, MAHAL.
Dreamland. Pantai yang termasuk kawasan Desa Pecatu ini senasib beda rupa dengan GWK. Maksudnya, Dreamland juga masih merupakan sebuah proyek, alias kawasan wisata belum jadi dengan kondisi infrastruktur yang masih mengkhawatirkan. Tempat parkirnya masih tanah bebatuan ditumbuhi ilalang. Akses masuk ke pantai adalah jalan turunan yang juga masih tanah bebatuan dan licin dikala hujan. Masuk ke area pantai agak mendingan, walaupun masih ada kios-kios belum jadi yang masih dalam tahap pengerjaan. Air tawar buat bilas juga masih susah didapat, dan itu adalah salah satu alasan kenapa gua ga nyebur di Dreamland. Berdasarkan pengalaman gua saat piknik sebelum bulan puasa kemarin, rasanya berenang di Laut tanpa bilas badan sesudahnya adalah salah satu bentuk pendzoliman terhadap diri sendiri.
Tapi, semua kekurangan itu terhapus sudah berkat keindahan alam yang ditampilkan oleh pantai Dreamland. kalo gua ditanya diantara pantai-pantai yang pernah gua datangi, manakah pantai yang menurut gua paling indah? Maka dengan nada lantang dan tegas bakal gua jawab, DREAMLAND. Gua ga bisa tutup mata bahwa Dreamland memang salah satu ciptaan Alloh SWT yang terindah. Gua belum pernah ke Hawaii, Whitehaven, Cancun, Acapulco, Navagio, Decepction Island, dll, tapi gua rasa keindahan Dreamland ga kalah dibanding pantai-pantai yang gua sebut itu.
Lautnya biru banget, terbiru diantara laut yang pernah gua liat. Pantainya dikelilingi tebing-tebing karang. Ombaknya besar dan teratur. Pasirnya putih dan sangat-sangat bersih. Di lokasi pantai, sampah-sampah bisa dibilang nihil. Dengan kondisi seperti itu, untuk buang sebatang puntung rokok pun gua dibikin segan. Di pantai lain, apalagi pantai di Batam yang "tidak" dikelola, jangankan puntung rokok, kadang-kadang kolor bekas aja tergeletak begitu saja di atas pasir. Kondisi kebersihan pantai yang aduhai ini bikin gua serasa tidak sedang berada di Indonesia. Salute, its really a dream land.
Sejak dari Pak Wayan bilang bahwa kita mau ke Dreamland, otak gua mulai terkontaminasi oleh pikiran mesum, dan menjadi semakin mesum saja setelah memasuki kawasan pantai. Semua masalah kehidupan di otak gua yang awalnya tersimpan dan tersusun dengan rapih untuk kemudian diselesaikan menggunakan metoda skala prioritas penyelesaian, mendadak hilang tanpa jejak dan terkubur oleh dua hal yang sedari tadi berputar mengelilingi kepala gua. Hal itu adalah, Bule dan Bikini.
Kursi santai dideretan pantai paling depan terlihat kosong. Lalu tanpa jeda panjang, kursi santai yang berjumlah dua buah dan terbuat dari kayu kelapa beralas busa tipis itu gua sewa dari penduduk setempat.
"Lima puluh ribu, Mas." Kata si Mbok yang nyewain kursi.
"Lima puluh ribu berapa lama, Mbok?" Tanya gua.
"Sepuasnya, Mas." Jawab si Mbok. Lalu, dengan perintah si Mbok, selang beberapa saat saja seorang anak pantai berkulit hitam terbakar, berambut gondrong kekuningan, dan berbadan kekar dengan enam buah kotak diperutnya datang untuk menancapkan sebuah payung ukuran besar dengan gagang kayu bulat yang berfungsi meneduhi kedua kursi itu dari sengatan matahari
Hmm, sepuasnya ya. Andai saja urat malu gua sudah putus, dan andai saja gua punya waktu lebih panjang, ingin rasanya gua berada di pantai itu selama dua hari dua malam, dengan ditemani seorang bule berbikini tentunya. Pikir gua dalam hati yang kali ini ikut-ikutan menjadi 'kotor'.
Posisi kursi paling depan sangat cocok buat mengakomodir keinginan otak gua yang sudah mulai melawan kehendak tuannya. Dengan posisi itu, bule yang maen ombak di pantai terlihat langsung tanpa hambatan. Lalu dengan bantuan kacamata riben yang baru gua beli, bola mata gua bebas bergerak tanpa harus memalingkan muka, dan hasilnya bule yang berada disamping kiri dan kanan pun dapat terpantau, walaupun efeknya mata gua bisa juling karena hal itu. Sedangkan bule yang di belakang dapat terekam lewat sebuah proses candid camera dengan cara pura-pura difoto padahal lensanya di zoom menuju si bule.
Untuk proses candid camera, gua melakukan sebuah kolaborasi dengan si Dinda. Setelah diancam ga bakal diajak pulang dan bakal ditinggalin di Bali sendirian, si Dinda pun secara terpaksa harus mengikuti keinginan kakaknya yang diluar dugaan mendadak mesum akibat dua hal, bule dan bikini. Finaly, inilah hasil kolaborasinya, foto-foto ini gua kasih judul "Antara Aku, Bule, dan Bikini".
Waktu selama 45 menit yang di berikan Pak Wayan pada kita untuk berada di pantai ini benar-benar gua gunakan seoptimal mungkin untuk sebuah kegiatan rutin yang kalian pun pasti sudah tahu. Iya pinter, betul sekali, 'mendadak narsis'. Jepret sana, jepret sini, ganti background jepret lagi, diatas pasir jepret lagi, berlatar pantai jepret lagi, naik batu karang jepret lagi, didepan bule jepret lagi, bule tiduran dijepret, bule garuk-garuk pant*t dijepret, pokoknya semuanya gua jepret, lalu diakhiri oleh sebuah video yang berisi pesan bahwa terlalu banyak melihat bule berbikini itu tidak baik untuk kesehatan jiwa.
Puas ga puas, gua harus tetap meninggalkan Dreamland, karena dari awal Pak Wayan sudah berpesan bahwa tepat pukul lima sore kita harus sudah berada di Uluwatu, agar masih sempat berkeliling dan juga dapat posisi nyaman saat nonton pertunjukan tari kecak sambil lihat sunset. Katanya telat sedikit saja bisa ga kebagian tempat yang pas ke posisi sunset.
"Gimana pantainya?" Kata Pak Wayan memulai pembicaraan sambil duduk santai di jok depan sebelah kiri.
"Bagus banget, banyak bulenya. Tapi udah ga ada 'sumur' ya, Pak?" Jawab gua, yang kemudian disambung sebuah pertanyaan.
note : Buat yang ga tau, 'sumur' itu adalah sebuah idiom yang artinya 'su*u dijemur'. Gua tau idiom itu dari seorang teman semasa kuliah yang memang orang Denpasar bernama Putu. Btw, luas banget ya pengetahuan gua, hehehehe.
"Soalnya sudah tterlalu banyak wisattawan lokal, Mas. Jadi bulenya sudah ttidak nyaman lagi berjemur ttelanjang. Sekarang bule-bule yang berjemur ttelanjang adanya di pulau-pulau kecil seperti Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan lain-lain. Ttapi kalau pulau itu sudah ramai dengan wisattawan lokal, mereka pasti pindah lagi cari ttempatt yang sepi." Jelas Pak Wayan.
Sial, berarti gua salah ambil paket tour, harusnya gua ambil paket yang ke Nusa Lembongan atau Nusa Penida. Batin gua meracau dan memancarkan penyesalan.
"Nantti di Uluwattu hatti-hatti sama monyett ya, jangan diganggu. Kacamatta, HP, Kamera, dan barang-barang kecil lainnya harus dijaga baik-baik. Soalnya monyett disana masih liar, suka ambil-ambil barang. Ttapi settelah ittu biasanya ada pawang yang bantu ambil barang yang diambil monyett dengan imbalan tterttenttu." Pak Wayan menjelaskan tentang monyet yang ada di Uluwatu.
Benar saja, kawan. Saat sedang berkeliling di Uluwatu, gua mendapati seekor monyet sedang asik ngemil kacamata yang dirampas dari seorang turis Jepang. Batangnya sudah patah ga karuan tanpa sempat diselamatkan oleh pawang komersil yang ada disana, dan si turis yang punya kacamata hanya bisa garuk-garuk kepala. Jarang-jarang kan ada monyet makan kacamata? Jadi momen langka itu langsung gua abadikan dengan si Dinda yang jadi model figuran berada di depan monyet. Ini dia penampakannya.
Tidak jauh dari posisi monyet yang lagi ngemil kacamata, ada lagi seekor monyet iseng yang bikin kekacauan, dan kali ini lebih spektakuler. Si monyet lagi ngemil rambut wanita setengah baya.
"Aaaaaaaa. Mas, mas, tolong ini." Wanita setengah baya itu mendadak panik dan berteriak minta pertolongan orang yang kayanya sih suaminya.
"Hush hush hush!" Si suami nyoba ngusir si monyet dengan cara mengibas-ngibaska topinya ke arah si monyet.
Si monyet malah balik neror si Suami. Sementara tangan kiri si monyet masih menarik rambut wanita setengah baya itu, si monyet melepaskan gigitan dan mengibaskan tangan kanannya, lalu sambil memperlihatkan taringnya yang tajam bak tombak orang Papua yang dipake buat perang, terdengar suara erangan bernada marah dari si monyet, "Rrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr......!!!"
Tampak si suami berubah jiper dan melangkah mundur satu dua langkah akibat teror dari si monyet yang tidak sedikitpun menampakan wajah perdamaian.
Adegan selanjutnya adalah, gua ga tau, karena gua sudah berlalu meninggalkan TKP dan ga mau ikut campur dengan masalah permonyetan. Bukannya ga simpati atau ga mau nolong, tapi berdasarkan Standart Operational Procedure tim SAR (Search And Rescue)yang sempat gua pelajari waktu gua jadi relawan di bencana gempa Jogja tahun 2006, bahwa sebelum menyelamatkan orang lain kita harus menyelamatkan diri sendiri terlebih dahulu, maka keputusan meninggalkan monyet ngamuk itu lebih banyak faedahnya dibanding ikut-ikutan sok nyelametin tapi akhirnya bisa jadi konyol. Ngeles dot com
Lagian gua juga punya trauma sama monyet. Dulu waktu kecil gua pernah dikejar monyet bernama blacky di pematang sawah hingga akhirnya gua terjatuh..............Eh, ini perasaan cerita tentang anjing deh bukan monyet...............Ah, pokonya dikejar hewan lah, terserah gua dong, ga usah protes!
Maksudnya adalah, gua punya cukup banyak pengalaman buruk sama hewan usil. Dikejar anjing, digigit tikus, rumah kemasukan ular, dikencingin kecoa, ditaplokin ulet bulu sampai bulu ketek gua ga sengaja kena cukur padahal maksudnya cuma mau nyukurin bulu-bulu ulet yang nempel di badan gua, dan banyak lagi yang lainnya. Intinya nih, kalo berususan sama hewan usil gua nyerah dah.
Hebat memang monyet-monyet di Uluwatu ini, ga cuman pisang, apa aja dia gares. Gua rasa kalo dikasih ekstasi sambil diputerin lagu dugem, tuh monyet bakal ikut-ikutan triping. Tapi sudahlah, lagian monyet-monyet liar itu malah bikin lahan pekerjaan buat pawang-pawang yang ada disana. At least, simbiosis mutualisme selalu terjadi dimanapun dan antara siapapun.
Acara tour di Uluwatu ditutup dengan pertunjukan tari kecak yang menceritakan kisah Ramayana. Ceritanya seru, harmonisasi suara penari kecak begitu mengagumkan, apalagi dicampur humor dari pemeran Rahwana yang genit ngegodain turis jepang. Yang pasti para penari kecak di Uluwatu ini amat sangat jauh lebih hebat dan lebih menarik dibanding monyet-monyet usil di sekitarnya. Ditambah lagi gua dapat posisi duduk yang pas banget menuju arah tenggelamnya matahari. Lengkap sudah kedamaian yang gua rasakan hari ini.
Rasa damai di hati untuk hari ini sih emang udah lengkap, tapi sedikit terusik oleh perut yang sudah kosong kembali setelah terakhir diisi siang tadi di GWK. Lalu lewat kedipan mata, gua memberikan kode pada Pak Ketut untuk menggeber mobil agar segera sampai di Jimbaran untuk makan seafood. Tapi Pak Ketut ga ngerti arti kedipan gua, jadi ya mobil slow slow aja.
Restorannya di tepi pantai yang selalu mengeluarkan deburan ombak bercampur hembusan angin sebagai melodi alaminya. Meja dan kursi berisikan hidangan aneka ragam seafood ditempatkan diatas pasir putih lengkap dengan sebuah lilin dalam wadah sebagai pemanis diatas meja tersebut.
Empat orang pengamen seumuran bokap gua datang menghampiri meja. Mereka mengenakan ikat kepala khas Bali, berbaju biru muda serta bercelana putih, dan masing-masing menggunakan alat musik yang berbeda, gitar akustik, conga, gitar elektrik, dan bas betot (ini bas betot nama ilmiahnya apaan ya?). Lalu dengan kompak mereka menyanyikan dua buah lagu cinta.
Like a river flows surely to the sea
Darling so it goes
Some things are meant to be
Take my hand, take my whole life too
For I can't help falling in love with you
Di Kuta Bali kau peluk erat tubuhku
Di Kuta Bali cinta kita
Bersemi dan entah kapan kembali
Mewangi dan tetap akan mewangi
Bersama rinduku walalu kita jauh
Kasih....
Suatu saat di Kuta Bali
Itu adalah penggalan lirik yang mereka nyanyikan didepan meja gua. Lagu dari Opa Elvis Presley berjudul "can't help falling in love", dan lagunya Bang Andre Hehanusa berjudul "Kuta Bali".
Sial, benar-benar rugi ngabisin suasana romantis begini cuma berdua sama si Dinda.
Kajol.......dimana kamu?????
-- Dan, masih saja bersambung, tampak tidak berujung seperti sinetron Cinta Fitri --








No comments:
Post a Comment