Sementara gua lagi asik buang suntuk dengan cara ngotak-ngatik pda secara ga jelas, dan si Dinda juga keliatannya lagi asik smsan sama pacarnya yang berwajah sangar mirip preman terminal, tiba-tiba Pak Wayan berkata, "GWK itu tterlettak di atas bukitt, jalan yang kitta ttempuh pun berbukitt-bukitt dan kebettulan kitta ambil jalur melewatti Universitas Udayana, atau biasa kitta sebutt Unud. Kalo di Bandung ada Unpad, di Jakarta ada UI, maka di bali ada Unud."
Ternyata kata 'Udayana' yang gua dengar tadi maksudnya adalah sebuah Universitas Negeri di Bali yang akan dilewati terlebih dahulu sebelum akhirnya sampai di GWK. Mendengar bahwa kita akan melewati sebuah Universitas, maka segala aktifitas di mobil itu langsung gua hentikan, dan satu hal penting langsung bergelantungan di pikiran gua : MAHASISWI.
Sudah cukup lama gua ga berurusan dengan mahasiswi. Kalo dulu sih, tiap ada mahasiswi baru, bareng sama teman-teman, kita selalu bikin sensus ga resmi secara diam-diam di kantin kampus saat jam istirahat terhadap mahasiswi-mahasiswi baru yang cantik. Menggunakan metoda spionase ala Sherlock Holmes, satu persatu data mahasiswi cantik itu kita kumpukan, mulai dari nama, jurusan, tempat kost, sampai ke no telf. Dengan dukungan koneksi yang tersebar di berbagai jurusan, data-data itu hampir selalu terkumpul dengan baik.
Spionase itu cuma buat iseng-iseng doang. Toh saat data sudah komplit, ga ada satupun yang berani buat mulai kenalan (termasuk gua). Palingan cuma godadin dan suit-suitin dari jauh doang, dan no telfonnya juga cuma buat menuh-menuhin phonebook doang biar kesannya kenalan cewek cakepnya banyak. Ngeceng kan gratis, kawan. Godain pake cara keroyokan juga gratis, masalah si ceweknya suka atau ngga digodain itu urusan nomor 27. Salah sendiri dianya cakep, kalo kurang cakep juga kan kita rugi godainnya.
Jangan ngebut ya, Pak Ketut. Siapa tahu ada mahasiswi Bali mau numpang mobil kita. Kalimat itu ingin sekali gua sampaikan ke Pak Ketut, tapi masih terhalang rasa malu. Ahh, tumben-tumbenan gua pake acara malu segala. Mungkin karena Pak Ketut adalah orang yang baru gua kenal dan dia orang tua, jadi untuk sementara sifat 'jaim' adalah sifat tercocok untuk ditampilkan dalam kemasan gua yang gagah ini. Tapi coba aja gua yang nyetir dan isi penumpangnya adalah teman-teman gua, tanpa diminta pun pasti gua mampir dulu ke tiap fakultas terutama fakultas kedokteran buat nyensus para mahasiswinya.
Tapi memang kayaknya Alloh SWT belum meridhoi gua buat ngecengin mahasiswi Bali, karena ga satupun aktifitas terlihat di lokasi kampus itu. Ya iya lah, ini kan musim libur lebaran, ngapain juga mereka masih aja nongol di kampus. Dari situ kalimat yang paling ingin gua sampaikan ke Pak Ketut pun berubah 180 derajat jadi : GEBERRRR PAKKKK!!!!!!
Saat masih didalam mobil, kita melihat dua buah potongan tangan yang tampaknya merupakan bagian dari patung Dewa Wisnu, dan itu menjadi tanda dimulainya tour di GWK ini. potongan tangan itu tergeletak begitu saja di sebuah tempat lapang berlantai beton tidak jauh dari pintu masuk kawasan GWK. Kayaknya potongan tangan itu belum sempat di rangkai di patung Dewa Wisnu, dan mungkin tempat lapang itu merupakan tempat transit bila ada bagian-bagian patung yang baru datang setelah dikirim dari tempat pembuatannya di Bandung.
"Nanti pulangnya kita mampir dulu kesitu ya, Pak." Ajak gua ke Pak Wayan
"Oke, boleh." Singkat jawaban Pak Wayan
Mobil masih bergerak maju sekitar beberapa menit dengan kecepatan sedang sebelum akhirnya berhenti sempurna setelah mendapatkan sebuah space untuk parkir yang berada tepat di depan sebuah restoran tempat kita mendapatkan paket lunch. Gua lupa nama restorannya, yang pasti didepan restoran itu terdapat sebuah miniatur patung GWK yang berukuran sebesar kepala dump truck, dan restoran itu berada di deretan ujung kios-kios yang menjajakan berbagai macam cinderamata khas Bali.
Menu makanannya buffet, semua tinggal dipilih dan makan sepuasnya. Yeah, yang begini nih gua demen. Ga pake jatah-jatahan, ga takut ga bakalan kenyang. Semua bebas dimakan sampai kapasitas usus dirasa mentok. Kecuali menu sayuran dan buah-buahan, semua menu di restoran itu tumplek jadi satu dalam sebuah piring lebar yang sedang gua pegang.
"Malu-maluin ih si Aa!" Bisik si Dinda.
"Biareeeeennnnnnn".
Sekelompok Bule dengan pakaian kemeja putih polos dan celana/rok hitam menyerupai sales mesin cuci menemani kita menyantap makan siang versi jumbo di restoran itu. Dengan pakaian seragam seperti itu, kelihatannya bule-bule itu sedang melakukan study tour dari sekolahannya disana. Enak ya jadi bule, study tour nya aja ke luar negeri, beda sama gua yang study tour nya cuma ke waduk jatiluhur doang yang jaraknya cuma sekitar 100 KM doang dari Bandung.
Dasar bule, kalo ngeliat gamelan ya sifat katro nya keluar. Gamelan itu dipukul-pukul secara ga jelas, nadanya ga beraturan, lalu setelah itu sang bule tertawa riang diiringi tepukan dari bule lainnya. Apa-apaan ini? Suara gamelan yang biasanya merdu jadi berantakan begitu? Rasanya masih lebih merdu suara kentongan yang dipukul hansip saat lagi ngeronda.
Tapi ya begitu itu, Rassul pernah bersabda : saat sesuatu dipegang oleh bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. Bukti kecilnya ya gamelan itu, suaranya jadi berantakan saat dipegang bule katro. Kalo gamelan aja bisa jadi berantakan bila dipegang oleh bukan ahlinya, apalagi sebuah negara? Di Republik ini kan banyak banget yang model begituan, kalo kata orang pinter sih semua itu terjadi demi terjadinya sebuah politik dagang sapi. Ada insinyur minyak disuruh pegang duit, ada yang Doktor ekomoni tapi megang sumber daya mineral, ada juga orang administrasi tapi disuruh pegang laut sama ikan, macem-macem lah. Sebenernya mereka itu orang-orang pinter sih, hanya kayaknya ga pas aja antara kepintaran dengan jabatannya. Tapi ya sudah lah, ga usah panjang lebar ngurusin konspirasi tingkat tinggi semacam ini, karena gua sih tetep golput untuk hal itu. Gua mau minta suaka aja ke Italy kalo republik ini benar-benar hancur, biar lebih gampang kalo mau nonton bola ke San Siro .
Patung belum jadi itu benar-benar menawan, belum jadi aja udah menawan, apalagi kalo udah jadi. Setelah disuguhi patung yang menawan, ga ada sedikitpun penyesalan saat harus menaiki ratusan anak tangga sebelum sampai ke lokasi patung itu. Patung Dewa Wisnu yang baru selesai sebadan doang itu diletakan terpisah dengan patung burung garuda yang baru selesai kepalanya doang. Jarak keduanya sekitar ratusan meter saja.
Kedua patung itu besarnya segede gaban. Ah entahlah persisnya segede apaan, gua rasa kata 'gaban' emang paling pas buat ngegambarin besarnya ukuran patung itu, walaupun gua ga tau 'gaban' itu segede apaan. pokonya kedua patung yang belum rampung itu amat sangat besar sekali dan segede gaban.
Tapi dari paragraf diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa besarnya 'gaban' adalah segede badannya Dewa Wisnu atau sebesar kepala burung garuda. Gua sampe bingung mencari persamaan ukuran dari kedua patung itu, jadi anggap aja besarnya segede gaban. Dan saat patung itu sudah selesai semua, lalu dirangkai dengan posisi Dewa Wisnu sedang menunggangi burung garuda yang merupakan kendaraannya, maka tidak ada kata yang lebih cocok untuk menggambarkan besarnya ukuran patung itu selain sebesar keluarga gaban yang sudah beranak pinak.
Seumur hidup inilah patung terbesar yang pernah gua lihat secara langsung tanpa meminjam media lain. Liberty sih katanya besar juga, patung Yesus di Brazil yang sebentar lagi dikalahkan rekornya sama patung yesus di Polandia juga katanya besar, tapi gua ga pernah ngeliat langsung. Tapi ini, patung GWK yang belum jadi ini, benar-benar sebuah mahakarya yang langsung gua lihat pake bola mata gua, dan itu benar-benar segede gaban. Gua benar-benar dibuat terpesona akan hal itu. Salut deh buat Bapak I Nyoman Nuarta sang kreator. Gua angkat empat jempol buat beliau. Liat aja nanti kalo ketemu gua mintain tanda tangan.
Begini deh, biar ga pusing dengan istilah segede gaban, gua kasih gambaran yang lebih jelasnya. Lubang hidung burung garuda itu diameternya setinggi manusia normal, dan panjang kumisnya Dewa Wisnu dari ujung kiri sampai kanan itu sepanjang satu shof manusia saat shalat berjama'ah di Mushola. Sekarang gua rasa kita sudah mulai menemukan gambaran sebesar apa 'gaban' itu.
Oh iya, ternyata Dewa Wisnu itu ada kumisnya loh. Gua baru ngeh akan hal ini. Sebelumnya yang ada dipikiran gua Dewa Wisnu itu klimis, dan memang selama ini kalo gua liat-liat gambar Dewa Wisnu ya klimis bersih ga pake kumis seperti Dewa lainnya. Tapi di patung GWK ada kumisnya, dan itu menurut gua bikin Dewa Wisnu semakin gagah. Gua aja pernah manjangin kumis, dan menurut gua sih gua penampakan gua jadi lebih gagah dibanding biasanya, nih liat aja sendiri.
Itu foto gua ya, bukan Dewa Wisnu, gagah kan, kawan? hehehehe. Sebenernya pengen sih manjangin kumis sama jenggot, biar tampilan lebih gagah, walaupun gua yang klimis pun tetap gagah, hanya kurang sangar saja. Tapi gua rasa itu bisa jadi blunder buat gua yang masih jomlo. Bisa-bisa gua ga laku, karena cewek jaman sekarang sudah terkontaminasi sama film Korea dimana bintang-bintangnya bergaya klimis tanpa bulu sedikitpun. Sepertinya mereka kemana-mana bawa pisau cukur dan tiap dua jam sekali cukuran. Cewek jaman sekarang lebih suka yang seperti itu. Jadi, okelah, untuk sementara gua ngikutin keinginan pasar pake gaya klimis dulu. Tapi nanti, kalo gua udah laku lagi, gua brewosin wajah gua. Yeaaahhhhh!!!
Setelah turun dari area lokasi patung belum jadi itu, kita mengambil jalan memutar untuk kembali ke tempat parkir. Dan, ahh, baru saja turun tangga, gua kembali dibuat terpesona oleh dinding-dinding tinggi berbentuk kotak-kotak yang dulunya adalah sebuah bukit utuh. Bukit itu dipotong-potong seperti kueh lapis, hingga akhirnya terbelah-belah dan menyisakan potongan yang berbentuk dinding tinggi yang menjulang. Diantara dinding-dinding itu dibuat jalan yang mirip sebuah labirin, dan di dinding itu katanya nanti akan dibuat relief yang bercerita tentang kisah Ramayana. Kisah Ramayana yang suaminya Shinta itu loh, bukan ramayana yang supermarket, jangan salah sangka. Shinta nya juga bukan yang keong racun itu loh, tapi Shinta yang istrinya Ramayana. Paham kan , kawan?
Setelah puas melakukan aktifitas kenarsisan di area GWK, maka kita pun beranjak kembali turun menuju area parkir untuk kembali melanjutkan acara tour selanjutnya. Rasa dahaga saat itu begitu melanda secara membabibuta. Sebelum naik tadi, gua sempat lihat ada tukang cendol yang berjualan di area konter-konter makanan. Jadi pasti saat turun sekarang gua mampir dulu beli cendol, karena rasanya tenggorokan kering ini ingin sekali segera disiram oleh air cendol. Dan ternyata pedagang yang menjajakan cendol Bandung di GWK itu adalah orang sunda, tapi orang dia orang Ciamis, jadi gua rasa lebih tepat nama di gerobaknya diganti jadi Cendol Ciamis, karena memang rasanya sedikit beda sama Cendol yang sebenarnya. Mau beda mau sama yang penting cendol, hajar aja lah.
Overall, gua puas dengan kondisi GWK yang belum jadi ini. Rasa capek hanya gua anggap sebagai resiko untuk mendapatkan sebuah keindahan. Dalam hati gua berjanji, saat nanti GWK sudah beres secara keseluruhan, gua pasti kesini lagi. Insya Alloh.
-- Ohh, no, bersambung lagi --

No comments:
Post a Comment