Tuesday, May 25, 2010

Fuckin Nightmare...

JEDAAAGGGGGGG........

Kaki kanan yang merupakan kaki terkuatku, kuayunkan dengan gerakan menendang penuh amarah dan bertenaga. Tendanganku tepat mengenai uluh hati sesosok hantu perempuan yang sejak diujung gang minim cahaya itu tidak berhenti mengganggu langkahku dengan memanggil-manggil namaku diselingi suara tawa cekikikan dengan nada tinggi berkategori sopran.

"iky..........iky......hi hi hi hi hi hi hi........." Begitu cara dia memprovokasi.

Entah apa jenis hantu itu. Mungkin kuntilanak, mungkin juga wewe gombel, atau bisa saja sundel bolong. Aku tidak terlalu paham mengenai jenis-jenis hantu. Sudahlah, tidak penting menentukan jenis hantu apa yang kuserang dengan tendanganku. Apapun jenis hantunya, yang pasti hantu sialan itu berhasil membuatku merinding, bulu kuduku sontak berdiri tak tentu arah dengan penampakan sosoknya yang begitu mengerikan.

Hantu itu berbalut kain gamis berwarna putih yang belepotan noda dimana-mana. Rambutnya hitam memanjang sedikit gimbal dan tampak tak terurus. Mukanya yang tak tertata dengan baik, jauh dari layak untuk disebut sebagai seorang perempuan. Kalau bukan karena suaranya yang melengking dan rambutnya yang panjang, mungkin aku akan sedikit kesulitan menentukan jenis kelamin mahluk itu. Hidungnya tidak simetris, lebih berat ke sebelah kiri, aku pun tak ingat persis berapa jumlah lubang hidungnya, mungkin satu, mungkin juga dua, yang aku tahu kalaupun ada sekat untuk memisahkan lubang hidungnya pasti itu tipis dan berada dibagian dalam.

kedua biji matanya yang seakan tinggal hitungan detik saja untuk lepas dari sarangnya itu melotot kearahku dengan tatapan tak bersahabat. Seluruh permukaan wajahnya dipenuhi benjolan-benjolan dan mengeluarkan cairan yang saat itu tampak berwarna hitam, mungkin itu darah, aku tak tahu kenapa bisa berwarna hitam, mungkin karena pengaruh pekatnya malam, atau karena memang warna darahnya yang seperti itu, entah.

Tendanganku yang penuh tenaga dan bersuara keras itu hanya dibalas oleh tertawaan dari sosok seram itu. Padahal tendanganku tepat mengenai uluh hatinya. Karena sepertinya jurus tendangan yang kukeluarkan tak berpengaruh sama sekali akupun lari terbirit, sambil sesekali melihat kebelakang seraya berharap mahluk itu tak menggangguku lagi. Tapi harapanku sirna, mahluk itu masih setia dibelakangku, dari gurat wajahnya yang mengerikan itu terselip pesan ejekan dan seolah-olah berkata "mau kemana kamu iky.......???"

Aku kalut, lariku semakin kencang. Aku yakin dengan kecepatan lariku yang seperti itu seekor anjing herder pun tak akan bisa mengejarku. Tapi lain halnya dengan mahluk sialan itu. Saat aku mempercepat lariku dengan sekuat tenaga dan mengeluarkan semua kemampuan yang kupunya, dia tampak asik berada tepat dibelakangku, Jaraknya hanya beberapa depa saja, dan dia mengejarku tanpa sedikitpun melakukan pemborosan energi.

Aku lelah, aku menyerah, aku tak tahu lagi harus melakukan apa. Saat itu pun tak terfikir olehku untuk baca-baca ayat Al-Qur'an yang biasanya ampuh untuk mengusir hantu seperti yang kuhadapi ini, mungkin karena panik. Rasanya aku harus pasrah saja, berharap mahluk itu mau melepaskanku tanpa syarat, atau menanti mahluk sialan itu mengatakan apa yang dia mau dariku yang hanya orang biasa ini. Siapa tahu aku bisa memenuhi persyaratannya dan hantu itu berhenti menggangguku.

Tiba-tiba aku tersungkur, energiku terkuras habis, sehingga saat aku menikung ke kanan, sebuah lubang kecil yang tersembunyi di belokan gang yang kulewati berhasil membuatku terjatuh. Beberapa detik berikutnya sosok menyeramkan itu mendekati diriku dan semakin dekat saja hingga hanya sejengkal saja jarak antara aku dan mahluk sialan itu.

Namun seketika itu aku terjaga, dan secara bersamaan aku ucapkan kalimat istigfar didalam hati. Lalu aku memaksa sepasang mata yang menempel pada wajahku untuk terbuka. Dengan tingkat kesadaran yang hanya 50%, tanganku merayap meraih handphone yang biasanya ada disebelah kanan posisi tidurku. Aku lihat jam di hand phone ku dan terlihat angka 02.47 am.

beberapa detik kemudian kesadaranku semakin membaik, aku merasakan ada rasa sakit di pergelangan kaki dan ujung jari-jari kakiku. Aku berdiri, dalam keadaan kamar yang gelap kucari saklar lampu yang berada didekat pintu, lalu kutekan, dan byarrrr, cahaya putih terang dari sebuah lampu TL 18 watt hadir dikamarku.

Sebuah tanda tanya hinggap dibenaku seiring dengan hadirnya cahaya lampu dikamarku. Aku melihat bercak darah segar berwarna merah mengotori sprai yang melapisi kasur per yang aku tiduri. nodanya ada dibeberapa titik, berbentuk seperti hasil susutan. Pandangan aku layangkan ke sekitar kamar mencari sumber darah tersebut, lalu aku menemukan noda yang tak jauh berbeda warna dan bentuknya mengotori dinding bercat hijau yang berhimpitan dengan kasur sebelah kiri, posisi nodanya kira2 berada 30 cm diatas kasur. Tiba2 saja aku teringat akan kakiku yang sejak tersadar tadi merasakan sakit yang cukup menyiksa, dan aku terkaget melihat ternyata sumber darah itu berasal dari punggung kakiku yang secara tak sadar menendang tembok.

Ya Tuhan, mungkin aku lupa berdo'a saat mau tidur tadi malam.

No comments:

Post a Comment