Sunday, May 2, 2010

My Roommate Has Duplicated My Habits

Sebut saja namanya SOMAD.

Si Somad adalah seorang laki-laki berumur dua tahun diatas gua, berperawakan kurus, kontur muka tirus, berambut sedikit ikal dengan belahan yang cukup adil dikedua sisinya. Memelihara janggut KW2 dengan kuantitas sedang, dan jarang memanjangkan kumis karena cukuran kumis milik gua rajin dia gunakan. Yang paling penting dari semua ciri-cirinya adalah si Somad mempunyai bau badan khas yang hanya bisa diungkapkan lewat ekspresi guratan wajah pucat pasi membiru karena menahan nafas yang terkadang sampai membuat gua teriak "MANDI SONO LUUU!!!!".

Si Somad adalah pria lajang asal Padang Panjang Sumatera Barat yang sebelumnya tidak pernah merasakan tinggal jauh dari kampung halamannya dengan durasi lama. Setahu gua, baru kali ini dia bergaul dengan orang-orang multi etnis disebuah kota yang lebih maju dibanding kampung halamannya (+/- 3 tahunan lah dia merantau), sehingga mungkin membuka wawasan baru untuk dia.

Menurut cerita yang gua dengar dari si Somad, dia adalah anak mantan orang kaya pemilik toko mas yang bangkrut terkena imbas krisis moneter di akhir tahun 90an. Jadi, kalo gua analisa dari latar belakang dia, sebenernya wajar-wajar saja si Somad punya kelakuan kaya sekarang. Kelakuanya kaya apa? Mari kita bahas.

Awalnya si Somad cuma jadi temen kantor gua yang komunikasinya hanya terjalin saat salah satu pihak sedang membutuhkan pihak lainnya. Namun saat gua memutuskan untuk pindah dari mess perusahaan dan mengontrak rumah sendiri, si Somad jadi salah satu teman yang gua ajak untuk sewa rumah bareng-bareng biar uang kontrakannya lebih ringan. Dari situ jadilah gua, Somad, dan 2 orang lainnya hidup dalam satu atap.

Atap rumah kontrakan 2 lantai yang dilengkapi dengan 3 kamar tidur, 3 kamar mandi (cuma 2 yang bisa dipake), 1 ruang keluarga, 1 ruang tamu, 1 dapur, dan sebuah balkon yang menghadap ke belakang dengan pemandangan rumah kontrakan tukang rujak petis yang selalu buang sampah kedalam selokan belakang rumah.

3 kamar tidur dengan jumlah manusia sebanyak 4 orang otomatis membuat ada salah satu kamar yang diisi oleh 2 orang. Setelah melewati perbincangan, akhirnya keputusan diketok bahwa gua dan si Somad berada dalam kamar tidur yang sama. Keputusan itu mengharuskan gua untuk rela berbagi tempat di sebuah ruangan berukuran 3 x 6 m lengkap dengan kamar mandi didalamnya. keputusan itu bukan masalah bagi gua, setidaknya untuk saat itu.

Dalam perjalananan rumah kontrakan yang sampai saat ini sudah berumur +/- 1,5 tahun, rumah ini sempat diisi oleh beberapa orang tambahan yang keluar dan masuk,,dan sekarang rumah kontrakan ini berisikan 7 orang. Sebuah ruangan dibawah tangga disulap jadi kamar dadakan untuk menampung tambahan personil. Jadi formasi yang ada sekarang adalah 2 kamar terisi oleh masing-masing dua orang, 1 kamar tetap berisikan satu orang, dan dua orang berada dikamar dadakan di bawah tangga. Lalu nasib gua? Tetap bersama si Somad di kamar yang sama, tanpa terganggu sedikitpun oleh perubahan jumlah personil.

Ngobrol sama si Somad hanya akan berjalan lancar bila kita menggunakan bahasa Minang atow bahasa Indonesia yang baik dan benar lengkap dengan "EYD". Saat kita ngobrol menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari apalagi dengan cara bicara nge-rap, maka akan banyak kata-kata yang miss yang akhirnya bikin komunikasi sedikit tersendat. Apalagi kalo dicampur istilah bahasa asing atau bahasa ghaool, dijamin makin gag nyambung. Makanya kadang klo gua ngomongin dia sama teman-teman yang lain, tinggal jeplak aja gak pake saringan, cukup pake basaha ngapak khas betawi, dijamin dia cuman cengo aja atau kadang ikut ketawa padahal yang jadi bahan omongan adalah dia.

Gua adalah orang yang tidak terlalu peduli dengan kerapihan dan kebersihan kamar. Walaupun begitu, gua punya limit kenyamanan. Saat gua rasa sudah tidak nyaman, maka aktivitas yang gua lakukan adalah kerja rodi untuk membuat kamar gua terlihat rapih, bersih, harum, dan sangat nyaman untuk digunakan oleh siapapun. Meski keadaan seperti itu paling hanya bertahan 2-3 hari doang, sisanya ya berantakan lagi.

Hal yang wajar bagi lelaki lajang seperti gua. Ini bukan pembelaan tapi berdasarkan pengalaman gua, 50 % lelaki lajang mempunyai perlakuan yang sama seperti gua terhadap kamarnya, 30% lebih jorok dari gua, dan cuma 20% yang memang peduli terhadap kerapihan dan kebersihan kamarnya. Namun setengah dari orang-orang yang peduli terhadap kebersihan dan kerapihan kamarnya biasanya bersikap kewanita-wanitaan alias banci.

Sialnya adalah, roommate gua sekarang termasuk orang yang lebih jorok dari gua. Awalnya gua coba ngalah buat beresin kamar saat gua rasa sudah mulai gak nyaman. Tapi lama kelamaan bosan juga beresin kamar melulu, padahal yang pake kamar ini kan gua sama si Somad, nah kok si Somad asik-asik aja dengan kondisi kamar yang mirip kapal titanic setelah terbentur karang es di samudra atlantik.

Saat gua ingetin, dia malah nyolot dan mengundang amarah karena dia ngerasa sudah sering beres-beres juga. Biasa, itu adalah alibi orang malas yang gag mau disalahin. Mungkin karena komunikasi yang gak lancar seperti yang gua bahas diatas yang akhirnya berimbas kesalahpahaman dalam mencerna kata-kata.

Akhirnya dengan keadaan penuh kesadaran gua lakukan hal yang sama dengan yang si Somad lakukan. Malah gua lakukan hal yang lebih parah, karena kebetulan barang-barang gua jauh lebih banyak dibanding si Somad. Paling kalopun gua beresin kamar cuma gua lakukan di wilayah kekuasaan gua. Wilayah si Somad ngga la yaw.

Bicara masalah habits. Setiap orang biasanya punya habits tersendiri, dan habits si Somad adalah meniru habits orang lain. Sialnya yang dia tiru adalah gua, dan gua gak nyaman akan hal itu.

Ex: gua biasa manggil orang dengan sapaan "coy", terus dia contek. Lalu gua ganti "cuy", terus dia contek. Kemudian gua ganti "bro", terus dia contek. Setelah itu gua ganti "mek",dia contek lagi. Lama-lama kesel juga, dan saat gua ganti dengan kata "mok" gua langsung jeplakin "klo yang ini lu contek juga gua gak ridho. Kreatip dikit lu cari kata-kata lain. Jangan nyontek mulu. Jadi rusak kata2 gua klo lu pake!!!"

Masalahnya bukan diconteknya, krn itu juga bukan kata-kata ciptaan gua. Tapi pelafalan dia saat menggunakan kata yang gua biasa pake jadi bernada aneh. Campuran logat Melayu dan Minang yang gag bisa gua ungkapkan dengan kata-kata. Yang pasti bikin gua jadi ilfil dan males gunain lagi.

Contoh lain, habits gua saat akan tidur adalah nonton film dalam dvd atow cd pake laptop yang gua simpen di bibir kasur yang befungsi sebagai pengantar tidur. Biasanya saat film belum habis, gua sudah mulai terbang ke alam mimpi dan membiarkan laptop gua nyala sampai pagi.

Dan si Somad pun sekarang melakukan hal itu. Jadi coba kalian bayangkan, sekarang kalo malam saat jam gua mau tidur, di kamar gua ada dua buah laptop yang memutar film berbeda. Satu film yang gua tonton, satunya lagi film yang si Somad tonton, dan itu tanpa sekat apapun. Kebayang kan suaranya jadi kaya apaan?

Gua sih biasanya cuma nyindir pake kata2 "pintu teater dua telah dibuka" abis itu gua naekin volume laptop gua sampe suara dari laptopnya dia cuma terdengar samar-samar saja. Lewat blog ini gua sampaikan permohonan maaf secara tidak langsung buat tetangga rumah karena kondisi yang memaksa gua untuk membuat gaduh di tengah malam, MAAPIN SAYA BU, PAK, MBA,,BANG, OOM, TANTE, dkk.

Ini yang paling parah, gua punya habit yang menurut kebanyakan orang adalah kebiasaan yang jorok, yaitu : dipagi hari setelah gua bangun gua selalu bikin kopi. Dan ditemani sebatang rokok, kopi yang gua buat selalu gua minum sambil berjongkok di kamar mandi untuk melepas sesuatu didalam tubuh dengan sukarela (gag perlu gua perjelas apa yang gua lepas).

Ternyata si Somad sekarang melakukan hal itu. Oh My GOD. Pernah gua gap, si Somad keluar dari kamar mandi sambil membawa gelas kosong, trus gua bilang "Wahhh, parah lu! Kaya gitu masih lu ikutin juga?" Dengan santai dia jawab pake logat khas Minang bercampur Melayu "Iya nih, gua jadi ikutin lu nih, enak pula rupanya"

Dengan muka emosi gua timpalin "Ahh, kampret lu! Jangan-jangan klo gua boker sambil makan nasi udug lu ikutin juga". Lalu gua pun hanya bisa berusaha menahan dongkol.

Itulah Somad. Seorang lelaki lajang "spesial" dengan segala sesuatu yang ada didalam dirinya. Roommate gua selama 1,5 tahun belakangan ini yang akan tetap menjadi roommate gua sampai hari-hari kedepan dan entah kapan akan berpisah. Pencontek setia habits gua, dan mungkin habits orang lain juga yang gua gag tau detailnya.

Yang gua sampaikan di blog ini emang cuma jeleknya si Somad doang, tapi itu bukan berarti si Somad gak ada bagus-bagusnya. Cuma kalo gua beberin yang bagusnya gak bakalan seru, hehehehehe.

Akhir kata, Bila si Somad baca blog ini gua cuma mau bilang "Maafin gua ya, Mad. Santai aja, identitas asli lu bakal tetap gua jaga". walaupun gua gak terlalu yakin si Somad bakal ngeh klo yang gua bahas di blog ini adalah dia.

No comments:

Post a Comment