Thursday, September 23, 2010

Tunggu waktu aja......

Celana jeans sontog aga belel, kaos polo "AC Milan", sendal jepit kulit warna cokelat, ransel hitam ukuran standar anak sekolah yang mengembung karena dipaksakan untuk menampung seluruh perlengkapan, dan sebuah tas jinjing berisi laptop beserta aksesorisnya. Itu adalah setelan mudik yang gua kenakan. Simple, ga ribet, semuanya bisa dibawa ke kabin, ga perlu masuk bagasi.

Sampai saat ini, yang ada dibayangan gua kalo mudik ya begitu aja, ga perlu bawa kardus berisi macam-macam, ga perlu bawa tas atau koper segede gaban, cukup bawa barang seperlunya dan gunakan seoptimal mungkin.

Tapi katanya, yang namanya hidup itu berputar. Itu pasti. Dan pasti juga suatu saat gua bakal ngalamin mudik secara ribet. Mungkin nanti, saat gua sudah mudik bersama anak dari istri-istri gua. Upssss, maaf kebalik :D

Bicara masalah istri, saat mudik kemarin ada satu statement dari si Mamah yang cukup bikin gua sedikit memicingkan mata dan mencari-cari arti dari ucapannya. Memang konteksnya bercanda, atau mungkin asal terucap karena terbawa suasana. Begini katanya. "Iky, kalau tahun depan masih belum nikah, udah ga usah pulang lah, pusing Mamah mah." diucapkan dengan logat sunda yang cukup kental, padahal beliau orang Solo.

Suasana waktu itu adalah suasana santai disertai permainan "Siti Nurbaya" dengan pemeran utama gua sebagai Siti Nurbaya dan yang jadi Datuk Maringgih adalah anak buah si Mamah. Gua selaku Siti Nurbaya tentunya menolak, karena cerita aslinya juga begitu. Dan karena penolakan gua yang diucapkan secara halus itulah, akhirnya keluarlah statement dari mulut si Mamah yang gua tanggapi dengan muka kaget, mata belo, mulut mayun, dan berkata "uluuuuuhhhhhh". Namun tak lama suasana pun mencair dan derai tawa kembali menghiasi obrolan kita. Entah gara-gara apaan, gua lupa.

Kembali masalah "itu". Ada apa ini? Apakah sudah semengkhawatirkan itukah posisi gua dimata nyokap? Berdasarkan blog yang dulu sempet gua tulis, rasanya ga ada yang perlu dikhawatirkan, deh. Toh guapun sebenarnya sudah punya target-target untuk masa depan gua, yang memang tidak semuanya gua ungkapkan ke si Mamah.

mungkin indikator kekhawatirannya adalah kakak gua. Dia sudah menikah di umur 24 tahun, dan gua adiknya sekarang sudah berumur 26 tapi masih belum ada tanda-tanda ke arah itu. Itulah resiko seorang adik. Siapapun orang tuanya, secara sadar maupun tidak, semua orang tua pasti selalu membanding-bandingkan dengan kakaknya. Dan sialnya gua akui memang gua selalu kalah satu langkah di banding kakak gua dari banyak segi. Wajar lah, emang kakak gua lahir duluan, jadi banyak hal dalam kehidupan yang dia rasakan lebih dulu. Walaupun pada akhirnya gua selalu berada di level yang sama atau bahkan lebih, dengan cara yang berbeda tentunya. Hanya masalah waktu saja.

Insya Alloh sekarang ini gua sudah termasuk kategori orang dewasa. Terutama dari segi umur. Kalo dari segi pemikiran, ya minimal gua pribadi beranggapan kalo gua sudah dewasa. Pendapat orang? Masa bodo ahh, emang gua pikirin.

Intinya sih, katanya kalo orang udah dewasa tuh udah bisa nentuin jalan hidupnya sendiri. Termasuk dalam hal yang "itu". Tanpa bermaksud menjadi anak durhaka, atau menjadi kacang yang lupa kulit, gua sih pengennya beliau memberi kebebasan dalam hal "itu". Yang penting anaknya masih normal dan masih suka cewek (apalagi cewenya model kajol, besok juga gua kawinin kalo emang ada), rasanya kekhawatiran itu bisa sedikit diminimalisir.

Jadi buat Mamah sabar ya, tinggal tunggu waktu aja kok.

1 comment: