Monday, August 16, 2010

Piknik -part 2-

Camp Vietnam udah diputerin. Rasa lapar bikin gua aga tergesa-gesa untuk menyudahi acara di tempat ini. "Udah yuk, kita ke pantai, biar bisa buka bungkusan".

Semua orang merespon setuju dengan apa yang gua inginkan, yang paling setuju tentu si bungsu anak teh Yuyun yang emang daritadi udah pengen nyemplung ke laut. Dengan begitu, mobil pun melaju mantap ke arah utara untuk segara menuju Mirota Pantai, sebuah tempat dimana beberapa bungkusan nasi dari styrofoam akan segera dihidangkan dan dilahap bersama-sama sebelum akhirnya bisa nyemplung ke air asin.

Jalan tanah bebatuan dan menurun terjal harus dilewati sebelum akhirnya sampai ke tujuan. Jauh sebelum gerbang masuk pantai, di kiri dan kanan jalan, Ratusan mobil dan puluhan bus tampak sudah nyaman terparkir. Firasat gua bilang, kemungkinan di dalam udah ga ada tempat parkir. Tapi apadaya, ruas jalan yang tersisa ga cukup buat dipake putar arah, jadi ya nekad aja gua tetap masuk ke area pantai sambil berharap disana ada tempat kosong buat dipake parkir. Atau sial-sialnya ya muternya di area pantai lah biar aga luas dikit area buat muternya.
Digerbang pantai gua dicegat petugas bertopi, kulitnya hitam terbakar khas warna kulit nelayan. "Didalam penuh, Pak. Tak ada parkir lagi. Coba Melur aja." Jelas si penjaga gerbang.

Melur adalah sebuah pantai yang dulunya dipakai sebagai tempat mendarat oleh orang-orang Vietnam saat sampai ke pulau ini, lokasinya sekitar 3-4 KM dari pantai yang sekarang gua datengin. Dua tahun yang lalu, gua pernah datang ke Melur. Banyak beling di pantainya, jadi gua gak tertarik untuk kesitu lagi

"Penuh ya? Gak apa-apa deh, saya cuma mau nyari tempat muter aja di dalam, ntar balik lagi kesini. Boleh kan, Pak?"

"Oh iya, silahkan." Ramah sekali Pak kumis penjaga gerbang itu.

Mobil sudah maju sekitar 100m dari gerbang. Setelah melewati sebuah belokan ke kiri, gua ngeliat ada space yang cukup buat dipake muterin mobil. Tanpa di suruh, A Ujang keluar dari mobil buat bantu markirin. Mobil Mundur, maju, belok kiri, belok kanan, mundur lagi, maju lagi, "Stoooopppppp!!!! "Gak cukup, Ky. Ada parit, ga bakalan bisa muter" Teriak A ujang dari luar.

"Fiuhhhh, maju lagi aja kali ya? aga kedepanan dikit, siapa tau ada tempat buat muter di depan." Pertanyaan gua kali ini ga ada satupun yang ngejawab. Semua orang yang ada di mobil asik aja dengan aktifitasnya sendiri-sendiri.

Sementara posisi mobil sudah kembali gua luruskan dan mepet ke sebelah kiri, biar tetap adaspace kalo ada motor yang lewat, dari kejauhan gua liat A Ujang begitu aktif mencari tempat yang cukup buat dipake muterin mobil. Sekarang tampak A Ujang lagi ngobrol sama orang yang kayanya sih tukang parkir. Lalu sambil senyum-senyum A Ujang berlari ke arah gua dan berucap "Kata tukang parkir dibawah ada tempat buat pusing, Ky. Hehehehehe".

"Buat Pusing? Sekarang aja udah pusing nyari parkiran."

Begitulah kalo orang Melayu berbicara, beberapa kata emang kadang terdengar lucu bila dialih bahasakan ke bahasa Indonesia. Pusing yang dimaksud si tukang parkir adalah "putar" bukan pusing "pening" seperti yang biasa kita gunakan dalam sebuah kalimat.

Lalu gua pun mengikuti saran si tukang parkir untuk pusing mobil di bawah dengan pasang muka pusing karena memang sedang pusing untuk mencari tempat pusing mobil agar pusing yang gua derita bisa terhilangkan setelah mobil terpusingkan dan mendapat tempat parkir. PUSING KAN LU!?

Mobil melaju pelan tanpa gas, hanya gaya gravitasi akibat turunan yang membuat mobil itu bergerak dan dibantu rem untuk mengendalikannya. Dasar memang rejeki, sebelum sampai ke tempat pusing mobil yang disarankan tukang parkir yang sedang pusing mengatur perparkiran yang membludak, gua mendapati space kosong untuk parkir mobil. Aga susah emang markirinnya, karena kondisi jalan yang menurun terjal dan cuma jalan tanah, ditambah space-nya bener-bener ngepas buat satu mobil doang, tapi ya akhirnya keparkir juga setelah si mobil bergerak bolak-balik untuk dapatin posisi yang pas. Alhamdulillah.

Tapi gua ada rasa bersalah sama Pak kumis penjaga gerbang. Tadi gua bilangnya cuma mau muter doang, tapi ternyata malah parkir. Dengan begitu berarti kita "gratis" masuk ke pantai. Lalu gua pun bertekad, nanti sepulang dari pantai gua bakal jujur buat bayar tiket masuknya.

Tikar digelar diatas pasir, dibawah pohon, dan didepan Panggung yang digunakan oleh sebuah perusahaan yang mungkin lagi bikin acara gathering. Nasi dalam styrofoam beserta lauk ayam lengkap dengan lalabnya segera dihidangkan. Jika saja nasi timbel, mungkin aroma pikniknya akan semakin kental. Tapi ya ini adalah salah satu efek kemajuan jaman, dimana teknologi telah menciptakan styrofoam sebagai alat praktis wadah nasi sekali pakai. Padahal dengan menggunakan styrofoam sebagai bungkus nasi, berarti limbah dunia semakin bertambah, akan beda halnya bila daun pisang yang digunakan, walaupun bekasnya tetap menjadi sampah, tapi daun pisang akan cepat melebur dengan alam tanpa bekas hanya dalam beberapa hari saja.

Kecuali si Haris (anak ke-2 teh Yuyun) yang beralasan sakit perut saat disuruh makan sama emaknya, semuanya makan dengan lahap, karena memang sengaja di rumah ga makan dulu, soalnya Bang Husein (suaminya teh Yuyun) sempat ngasih kabar kalo teh yuyun bakalan bikin nasi bungkus buat kita semua.

Makanan habis, bersih, hanya menyisakan tulang ayam dan styrofoam yang tentunya ga ikutan gua gares, karena gua masih orang normal yang cuma mau makan makanan yang layak dimakan saja. Kalo makan emang ga boleh bersisa, itu kata almarhum nyokap gua, katanya kalo masih ada sisa, nanti nasinya nangis.

Sambil nurunin makanan biar berposisi nyaman di dalam usus, gua sulut satu batang Djarum Super. Kegiatan merokok memang tidak terlalu didukung oleh suasana saat itu. Ditengah hembusan kencang angin pantai, dan sengatan matahari yang begitu panas rasanya bukan saat yang tepat untuk merokok, tapi selalu saja ada yang kurang bila setelah prosesi makan tidak dilanjutkan dengan hisapan tembakau, mungkin sudah candu. Para perokok selalu berkelakar bahwa bila sesudah makan tidak merokok rasanya kaya digebugin China dan ga ngelawan (no sara).

Debur ombak, dan suara bising jeritan manusia yang kebetulan saat itu lebih banyak kaum Hawa di banding Adam bikin gua semakin ingin nyemplung ke laut. Cuma satu yang mengganjal gua untuk segera nyemplung yaitu, sejauh mata memandang, dan segitu banyaknya wanita disana, ngga satupun wajah yang menggugah gua untuk segera mengakhiri kejombloan yang gua alami. Memang Batam bukan tempat hoki gua dalam berhubungan dengan kaum Hawa.

Byarrrrrrr...........

Ombak setinggi kurang dari 1/2 meter menghantam tubuh gua dan semua orang-orang yang ikut basah-basahan di air asin itu. Memang gak ada ombak besar di pantai ini, tidak seperti pantai-pantai di selatan pulau Jawa yang ombaknya rata-rata hampir setinggi manusia. Tapi pantai dengan ombak tenang seperti ini lebih asik untuk dijadikan sebagai tempat berenang, mengambang, dan aktifitas air lainnya tanpa perlu was was terseret ombak. Walaupun tentunya ombak besar lebih memancing adrenaline bagi orang-orang yang suka dengan tantangan. Kalo gua pribadi lebih suka dengan yang sedang-sedang saja. Terlalu besar, takut. Terlalu kecil, kaya di empang. Jadi ya yang sedang-sedang saja.

Pantainya berpasir putih, tapi area pantainya pendek, alhasil pantai tersebut seperti over kapasitas bila dibandingkan dengan pengunjung yang datang. Sayang pantainya lagi kotor. Banyak sampah-sampah, baik itu sampah sumbangsih manusia yang tidak bertanggung jawab, maupun sampah-sampah yang memang sudah ada disitu seperti ranting pohon, batok kelapa, rumput laut yang sudah mati, dan berbagai kotoran lain yang sepertinya terbawa badai yang belum lama ini mendera kawasan Kep. Riau. Ciri khas "pantai-pantai rakyat" yang ada di Kep. Riau memang seperti itu, tidak terurus dan tidak termaksimalkan oleh pemerintah selaku pengelola.

Beda dengan pantai-pantai yang dikelola swasta. Bersih, terawat, view bagus, fasilitas komplit, dll. Tapi kalo kita kesitu harus punya duit dollar. Memang bisa bayar pakai rupiah, tapi tetap harga sesuai dengan harga dollar-nya, hanya sudah di kurs kan saja. Harga rokok djarum super aja 5 dollar Singapur (sekitar 30rb rupiah) padahal di warung cuma Rp 8.500. Gua rasa cuma orang-orang kaya yang kalo buang air keluarnya duit seratus ribuan aja yang bisa masuk ke pantai model begitu, secara di tempat model begitu itu, ada resort yang harga sewanya adalah US $ 2.000 per malam. Kalo gua jadi orang kaya juga tetep mikir-mikir saat mau buang duit 2rb dollar US dalam semalem cuma buat numpang begadang doang. Ihhh, ga ada manfaatnya banget.

Setelah berenang, berendem, ngambang, maen ombak, maen pasir, dll selama lebih dari 1 jam, dipikir-pikir, kulit gua yang udah sawo mateng, dan udah mateng banget, bisa berubah jadi sawo busuk kalo kelamaan kena matahari pantai yang panasnya cuma beda tipis aja sama knalpot motor setelah digeber.

"Udah yuk, Rol." Ajak gua ke si Rolly.

"Lu duluan deh. Gua mo ngeringin badan dulu."

"Kamar mandinya dimana sih?"

"Setau gua sih disitu" Sambil tangannya menunjuk kearah utara panggung.

Gua nyebur kelaut untuk yang terakhir, biar pasir-pasir yang masih nempel di badan bisa kebilas sama air laut.

-Bersambung lagi, kawan. Soalnya kalo kepanjangan ga enak bacanya-

1 comment:

  1. ternyata udah sampai kemana2 ni maz liburannya.kalau ada rwzkilah nnti saya susul hehehe

    ReplyDelete